Akurat Logo

Prabowo: Pemimpin Indonesia Harus Pintar, Jangan Dibodoh-bodohi

Moehamad Dheny Permana | 19 September 2026, 19:35 WIB
Prabowo: Pemimpin Indonesia Harus Pintar, Jangan Dibodoh-bodohi
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (19/9/2026). - Foto: Youtube Setpres

AKURAT.CO Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmennya untuk menyejahterakan rakyat saat menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Ponorogo, Sabtu (19/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo secara terbuka menegaskan tekad pemerintahannya untuk memastikan tidak ada lagi warga negara yang mengalami kelaparan.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah menggerakkan seluruh potensi bangsa demi menciptakan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat.

"Saya menerima mandat dari rakyat Indonesia. Saya tidak ingin ada orang lapar di Indonesia. Indonesia yang subur, Indonesia yang begitu banyak kekayaannya, tidak boleh ada orang yang lapar di bumi Indonesia," ujarnya.

Presiden Prabowo menekankan bahwa perjuangan untuk membebaskan Indonesia dari rantai kemiskinan butuh kerja keras serta peran aktif dari kalangan berpendidikan.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia

Pondok pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang cerdas, mandiri, dan memiliki integritas kebangsaan yang tinggi.

Di hadapan para santri dan kaum terdidik, Presiden Prabowo menitipkan pesan penting mengenai pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan nalar kritis.

Menurutnya, kecerdasan intelektual sangat diperlukan, agar bangsa Indonesia tidak mudah terpengaruh atau dieksploitasi oleh pihak luar.

"Karena itu, saya ingin berjuang sekeras-kerasnya untuk menghilangkan kemiskinan dari Bumi Indonesia, saudara-saudara sekalian berpengetahuan luas. Benar. Pemimpin Indonesia harus pintar. Jangan dibohongi orang. Jangan dibodoh-bodohi," jelasnya.

Selain menyoroti pentingnya pendidikan, Presiden Prabowo juga melontarkan kritik kepada kalangan akademisi atau intelektual yang dinilainya kurang peka terhadap persoalan ketidakadilan sosial.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.