Kemenkes: Virus Hanta di Indonesia Berbeda dengan Kasus Mematikan di Kapal Pesiar MV Hondius

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan kasus virus hanta atau hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan, kasus yang selama ini ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), bukan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) seperti yang terdeteksi dalam klaster kapal pesiar MV Hondius.
Menurutnya, HFRS lebih banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa dengan gejala utama berupa demam, tubuh lemas, hingga ikterus atau kondisi tubuh menguning.
Masa inkubasi penyakit ini berkisar satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sekitar 5 hingga 15 persen.
“Strain yang termasuk dalam tipe ini antara lain Hantaan Virus, Puumala Virus, dan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, virus tipe HFRS umumnya dibawa tikus got atau Rattus norvegicus yang banyak ditemukan di wilayah perkotaan maupun area semi-alami dan pertanian di Asia serta Eropa.
Sementara itu, tipe HPS yang terjadi pada kasus kapal pesiar MV Hondius disebut memiliki tingkat kematian jauh lebih tinggi, yakni mencapai sekitar 60 persen. Penyakit ini umumnya ditemukan di kawasan Amerika.
Gejala HPS meliputi demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas berat. Masa inkubasinya juga lebih panjang, yakni antara satu hingga delapan minggu tergantung jenis virusnya.
Baca Juga: Hantavirus Masuk Jakarta! Kemenkes Awasi WNA Kontak Erat Pasien dari Kapal Pesiar MV Hondius
“Strain pada tipe HPS di antaranya Sin Nombre Virus, Laguna Negra, dan Andes Virus yang ditemukan pada kejadian kapal pesiar MV Hondius,” jelasnya.
Ia menambahkan, hewan pembawa virus tipe HPS banyak ditemukan di habitat liar di benua Amerika, termasuk tikus padi berekor panjang.
Kemenkes memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Virus hanta yang beredar di Indonesia masih didominasi tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.
“Penularannya dapat terjadi melalui gigitan tikus, kontak dengan sekresi, atau menghirup partikel debu yang tercemar urin maupun feses tikus kering,” katanya.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan penularan virus hanta antar manusia sangat jarang terjadi.
Penularan antarmanusia sejauh ini hanya pernah dilaporkan pada tipe HPS akibat Andes Virus di wilayah Amerika Selatan.
“Sampai saat ini penularan antar manusia baru dilaporkan pada kasus Andes Virus di Amerika Selatan,” tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 8Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar










