Premanisme Ancam Investor, Ganggu Target Pertumbuhan Ekonomi

AKURAT.CO Aksi premanisme berkedok ormas yang kerap mengganggu pelaku usaha dan industri selaku investor perlu segera ditertibkan.
Sebab, kata Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, fenomena ini bisa menghambat datangnya investor ke Indonesia karena akan dikenal sebagai negara dengan kepastian hukum rendah.
"Syarat utama investor mau menanamkan modalnya adalah keamanan dan kepastian hukum. Jika investor yakin bahwa keduanya dijamin negara, mereka tidak akan ragu untuk berusaha di Indonesia," kata Eddy dalam keterangannya, Senin (28/4/2025).
"Bahkan, para investor siap untuk menanamkan modalnya di usaha yang belum terbangun infrastrukturnya. Misalnya belum ada jalan, listrik perumahan dan lain-lain, asal keamanannya terjamin dan penegakan hukum dilakukan secara konsekuen," lanjut Eddy.
Baca Juga: Apa Itu Trading Halt? Ini Pengertian, Aturan, dan Dampaknya Bagi Investor
Menurutnya, investasi sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke target delapan persen, seperti yang direncanakan Presiden Prabowo Subianto.
"Di tengah melambatnya daya beli masyarakat dan tantangan yang dihadapi ekspor produk Indonesia akibat melemahnya harga komoditas dan penerapan tarif oleh AS, kinerja ekonomi nasional bisa terdongkrak oleh masuknya investasi," tutur Eddy.
"Dengan kata lain, jika ada pihak-pihak yang mengganggu iklim investasi di Indonesia, itu sama saja dengan mengganggu target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi delapan persen," katanya menambahkan.
Eddy menjelaskan, melihat di negara-negara tetangga yang menjadi tujuan investor asing, masalah premanisme dan gangguan terhadap investasi tidak ditemui.
Baca Juga: Dasco: Jadwal Kunjungan Prabowo ke IKN Belum Dipastikan, tapi Investor Qatar Mulai Melirik
Artinya, jika investor dihadapkan pada opsi untuk berinvestasi di Indonesia dengan risiko jaminan keamanan atau melakukan investasi di negara lain yang tidak memiliki masalah premanisme, tentu investor akan menjatuhkan pilihan untuk opsi yang kedua.
"Tahun 2025 saja, target investasi yang kita harapkan baik dari dalam maupun luar negeri adalah Rp1.900 triliun. Ini bukan angka kecil dan hilangnya kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia akan mempersulit upaya kita untuk mencapai target tersebut," jelasnya.
Oleh karena itu, Eddy menilai, semakin dini penanganan dan penegakan hukum terhadap aksi-aksi premanisme, Indonesia akan mengirimkan sinyal kuat ke dunia usaha bahwa pemerintah tidak menolerir
"Saya juga menyambut baik usulan Mendagri yang tengah mengevaluasi perlunya revisi Undang-Undang Ormas. Meski saya merasa bahwa ketegasan aparat penegak hukum memberantas aksi premanisme sampai ke akar-akarnya sudah akan cukup ampuh tanpa perlu merubah legislasinya," tutup Wakil Ketum Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Baca Juga: Pemerintah Mau Skema Tipping Fee Dihilangkan, Investor Bisa Langsung Bangun PLTSa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








