Konflik Timur Tengah Bikin Minyak Mahal, APBN RI Mulai Tertekan?

AKURAT.CO Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar global setelah serangkaian serangan di sekitar Selat Hormuz dan meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di Yaman mendorong harga minyak mentah dunia menembus USD100 per barel.
Harga Brent bahkan sempat mencapai sekitar USD110 per barel sebelum terkoreksi. Pada perdagangan Kamis (10/9/2026), Brent ditutup di USD107,63 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di USD102,48 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dan penguasaan pelabuhan Mocha oleh kelompok Houthi di Yaman.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Tembus USD100 per Barel
Situasi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia karena kenaikan harga minyak dunia tidak berhenti pada pasar komoditas.
Sebagai negara yang masih menjadi net importer minyak, lonjakan harga crude dapat meningkatkan biaya impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kenaikan harga minyak menjadi tantangan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor minyak.
"Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam sehingga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah," kata Ibrahim dalm riset hariannya, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: Menko Polkam Minta Pemulihan Pascakonflik Papua Pegunungan Dipercepat
Tekanan terhadap rupiah tersebut menjadi salah satu saluran yang perlu diperhatikan. Ketika harga minyak meningkat dan kebutuhan valuta asing bertambah, biaya impor energi dapat semakin mahal dalam denominasi rupiah.
Kondisi tersebut juga berpotensi menciptakan tekanan inflasi dari sisi impor atau imported inflation, terutama apabila kenaikan harga energi berlangsung dalam waktu yang panjang.
Risiko ke APBN
Kenaikan harga minyak juga dapat memberikan tekanan langsung terhadap APBN melalui belanja subsidi dan kompensasi energi, terutama jika harga minyak bertahan jauh di atas asumsi yang digunakan dalam perencanaan anggaran.
Menurut Ibrahim, pemerintah menghadapi pilihan yang tidak sederhana ketika harga minyak dunia melonjak. Di satu sisi, mempertahankan harga energi di tingkat konsumen dapat membantu menjaga daya beli masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Perbedaan Digital Citizen dan Citizen Journalism: Pengertian serta Karakteristiknya
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









