Ancaman Inflasi Menguat, Konflik Timur Tengah Picu Tekanan Harga Global

AKURAT.CO Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Bank Indonesia, inflasi terjadi ketika kenaikan harga bersifat luas dan berdampak pada berbagai komoditas, bukan hanya satu atau dua jenis barang. Sebaliknya, kondisi penurunan harga secara umum dikenal sebagai deflasi.
Secara umum, inflasi terbagi menjadi dua jenis, yakni inflasi inti (core inflation) dan inflasi non-inti (non-core inflation).
Inflasi inti adalah kenaikan harga yang relatif stabil dan tidak terlalu dipengaruhi faktor sementara.
Contohnya meliputi harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, biaya perumahan, serta layanan pendidikan dan kesehatan.
Sementara itu, inflasi non-inti lebih dipengaruhi faktor eksternal dan bersifat fluktuatif, seperti harga bahan bakar minyak (BBM), harga pangan yang bergantung pada cuaca, serta harga barang impor yang dipengaruhi nilai tukar.
Dalam konteks global, tekanan terhadap inflasi saat ini semakin kuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Mengancam, Konflik Timur Tengah Berpotensi Perparah Situasi Global
Konflik tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak dan gas.
Kenaikan harga energi ini akan berdampak langsung pada inflasi non-inti, khususnya melalui kenaikan harga BBM dan biaya distribusi barang.
Selain itu, gangguan rantai pasok global akibat konflik dapat memicu kenaikan harga barang impor dan melemahkan nilai tukar, yang pada akhirnya memperbesar tekanan inflasi di dalam negeri.
Untuk mengendalikan inflasi, diperlukan langkah strategis dari pemerintah dan otoritas moneter. Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral dapat menaikkan suku bunga guna mengurangi jumlah uang beredar.
Di sisi lain, kebijakan fiskal juga berperan penting, seperti pengendalian belanja negara dan penyesuaian pajak untuk menekan permintaan.
Pemerintah juga dapat melakukan intervensi melalui pengendalian harga pada komoditas tertentu serta meningkatkan produksi dalam negeri guna menjaga stabilitas pasokan.
Di Indonesia, Bank Indonesia secara aktif menggunakan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas inflasi.
Sementara itu, pemerintah juga menetapkan kebijakan harga pada sektor strategis seperti BBM dan listrik guna meredam gejolak harga.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, termasuk konflik geopolitik, pengendalian inflasi menjadi tantangan besar yang membutuhkan koordinasi erat antara pemerintah, bank sentral, dan pelaku ekonomi agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Baca Juga: BKKBN Perketat Pengawasan Harian MBG, Distribusi Diminta Tepat Sasaran Meski WFH
Laporan: Marta Anunciata Wea/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









