Menanti Gebrakan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
Hefriday | 9 September 2025, 14:40 WIB

AKURAT.CO Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati kepada Purbaya Yudhi Sadewa terus memunculkan respons dari kalangan ekonom dan akademisi.
Salah satunya datang dari Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti.
Esther mengaku mengenal sosok Purbaya sejak lama, terutama ketika ia mengajar kelas makroekonomi. Menurutnya, Purbaya dikenal cerdas dan memiliki pemahaman kuat terkait teori ekonomi.
Namun, ia juga menyampaikan kritik terhadap gaya presentasi Purbaya saat sarasehan ekonomi nasional pada 8 April 2025.
“Saya mengenal beliau sebagai sosok pintar. Hanya saja dalam paparan terakhirnya, kesannya lebih menentramkan publik tetapi tidak langsung menyentuh inti masalah. Solusinya jadi terasa kurang pas,” ujar Esther saat dihubungi Akurat.co, Selasa (9/9/2025).
Menurut Esther, pidato Purbaya kala itu lebih menekankan narasi optimistis, tetapi kurang membedah persoalan mendasar perekonomian Indonesia.
Hal ini menimbulkan keraguan apakah Purbaya nantinya mampu membuat gebrakan kebijakan yang konkret, terutama ketika harus menggantikan sosok Sri Mulyani yang selama bertahun-tahun menjadi wajah fiskal Indonesia.
Esther menekankan bahwa publik tidak lagi membutuhkan sekadar retorika menenangkan, melainkan solusi nyata.
“Kita perlu kebijakan ekonomi yang mampu menyelesaikan akar persoalan, bukan sekadar menutup utang dengan utang atau terus menaikkan pajak dan cukai,” tegasnya.
Sri Mulyani meninggalkan sejumlah catatan penting dalam pengelolaan keuangan negara. Di satu sisi, ia dikenal berhasil menjaga stabilitas fiskal, tetapi di sisi lain berbagai kebijakannya menuai kritik, mulai dari ketergantungan pada utang hingga beban pajak yang semakin dirasakan masyarakat.
Kini, Purbaya dihadapkan pada pekerjaan rumah besar. Ia harus mampu menjawab pertanyaan publik mengenai bagaimana mengurangi defisit tanpa menambah utang baru, serta bagaimana menciptakan penerimaan negara tanpa menekan kelas menengah dan masyarakat kecil.
Bagi Esther, pergantian menteri ini merupakan momentum penting untuk menguji kemampuan Purbaya dalam merumuskan strategi ekonomi yang tepat. Ia menekankan, masyarakat menunggu gebrakan yang berbeda dari pola lama.
“Kita ingin melihat kebijakan yang mampu menciptakan solusi, bukan hanya langkah administratif yang sekadar memberi kesan aman di permukaan. Indonesia butuh Menteri Keuangan yang berani mengambil langkah inovatif,” ujarnya.
Purbaya menghadapi sejumlah tantangan besar. Pertama, beban bunga utang negara yang kian membesar dan menyedot sebagian besar penerimaan pajak. Kedua, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi yang masih bergantung pada konsumsi dan ekspor komoditas primer.
Ketiga, ketidakpuasan publik terhadap kebijakan fiskal yang dianggap belum berpihak pada pemerataan kesejahteraan.
Selain itu, situasi global yang masih tidak menentu menambah beban. Harga energi dan pangan dunia yang fluktuatif serta perubahan geopolitik internasional berpotensi mengguncang stabilitas fiskal dalam negeri.
Esther juga menyinggung praktik kebijakan ekonomi yang kerap disebutnya sebagai “ABS” atau Asal Bapak Senang. Ia menilai, pendekatan seperti ini tidak boleh berlanjut di era Purbaya.
“Kalau kebijakan ekonomi hanya dibuat untuk menyenangkan pihak tertentu atau sekadar menunjukkan stabilitas di permukaan, maka akar masalahnya tidak akan pernah terselesaikan,” jelasnya.
Menurutnya, kebijakan fiskal harus berlandaskan data yang akurat dan analisis mendalam, bukan sekadar narasi yang menenangkan atau populis.
Banyak kalangan berharap Purbaya segera menunjukkan arah kebijakan yang lebih progresif. Beberapa langkah yang ditunggu antara lain reformasi pajak yang lebih adil, pengelolaan utang yang kreatif seperti skema debt swap untuk pembangunan berkelanjutan, serta peningkatan belanja produktif yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
Selain itu, keberanian untuk menghentikan program belanja yang tidak efektif juga menjadi tuntutan. Banyak pihak menganggap anggaran negara kerap digunakan untuk proyek yang tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Meski kritik bermunculan, ada pula pihak yang percaya Purbaya mampu menjawab tantangan ini. Latar belakangnya sebagai ekonom dan pengalaman panjang di bidang kebijakan publik dianggap menjadi modal penting.
Namun, skeptisisme tetap ada. Sebagian kalangan menilai Purbaya terlalu berhati-hati dan cenderung normatif dalam menyampaikan ide-ide kebijakan. Jika pola ini berlanjut, maka kepercayaan publik bisa melemah.
Pergantian Menteri Keuangan ini sekaligus menjadi ujian besar bagi pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat. Tanpa langkah konkret yang inovatif, reshuffle hanya akan dipandang sebagai pergantian kursi tanpa arah baru.
“Kepercayaan publik adalah aset utama. Jika Purbaya bisa membuktikan diri dengan kebijakan yang tepat sasaran, maka ia akan mendapat dukungan luas. Tapi kalau hanya melanjutkan pola lama, kepercayaan itu bisa hilang,” tutur Esther.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








