Impor AS Anjlok Hingga 20 Persen, Tarif Trump Jadi Pemicu Gejolak Rantai Pasok

AKURAT.CO Perdagangan luar negeri Amerika Serikat menghadapi tekanan baru pasca data April 2025 menunjukkan penurunan hampir 20% pada angka impor barang.
Usut punya usut, penurunan tersebut terjadi seiring perusahaan beradaptasi terhadap tarif resiprokal baru yang dicanangkan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan Biro Analisis Ekonomi (BEA) dikutip dari laman bloomberg, penyusutan tajam pada impor berkontribusi pada penyempitan defisit perdagangan barang secara signifikan, meski juga menandakan potensi gangguan serius pada rantai pasok nasional.
“Perusahaan mengalihkan pasokan atau menunda pemesanan untuk menghindari lonjakan biaya akibat bea masuk baru,” kata analis perdagangan dari Brookings Institution, Kamis (29/5/2025).
Baca Juga: Tarif Trump Dibatalkan, Pasar Global Bernapas Lega, Sampai Kapan?
Sehingga pada akhirnya, pelemahan impor tersebut berpotensi memberikan dampak yang signifikan. Industri manufaktur, logistik, dan ritel menjadi yang paling rentan karena bergantung pada pasokan komponen dari luar negeri.
Meski pengeluaran domestik naik tipis 0,1%, penurunan barang tahan lama mencerminkan ketidakpastian rantai pasok yang mulai terasa di tingkat konsumen.
Federal Reserve melaporkan inflasi barang non-pangan dan non-energi naik 0,3%, sinyal awal bahwa biaya yang lebih tinggi mulai terserap ke harga ritel.
Meskipun harga jasa inti tetap stabil, banyak perusahaan seperti Walmart dan Macy’s memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam bulan-bulan mendatang.
Sejumlah tarif yang diberlakukan telah dicabut sementara menyusul negosiasi antara AS, China, dan Uni Eropa. Namun, pengadilan federal pada Rabu lalu juga memblokir sebagian bea masuk, menambah ketidakpastian dalam arah kebijakan perdagangan AS.
Baca Juga: Tarif Trump Dibatalkan, Pengadilan AS Batasi Kewenangan Presiden atas Hukum Darurat
Dalam catatan rapat Mei 2025, Federal Reserve menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2025 dan 2026, mengutip kekhawatiran atas dampak jangka panjang dari kebijakan perdagangan yang fluktuatif.
Meski pertumbuhan pekerjaan melambat, pasar tenaga kerja tetap menopang konsumsi. Pendapatan riil rumah tangga tumbuh 0,7%, dengan tingkat tabungan meningkat ke 4,9% level tertinggi sejak pertengahan 2024.
Namun, bila ketidakpastian tarif berlanjut dan perusahaan mulai mentransfer beban biaya kepada konsumen, tekanan terhadap daya beli bisa makin besar.
Dalam lanskap ekonomi global yang saling terhubung, kebijakan proteksionisme AS tak hanya memukul neraca dagang, tapi juga bisa menjadi boomerang bagi konsumsi domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa 2026/27: Skor, H2H, Susunan Pemain
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana









