Rupiah Masih di Bawah Tekanan Dolar AS, Inflasi Oktober Jadi Penentu

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/10/2026).
Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi ketidakpastian global, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan inflasi di dalam negeri.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.130 hingga Rp18.180 per USD pada perdagangan berikutnya. Sementara itu, untuk perdagangan pekan ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per USD.
Baca Juga: Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000 per USD
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.130-Rp18.180,” ujarnya dalam reset hariannya, Kamis (29/10/2026).
Pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah tercatat menguat 47 poin ke level Rp18.137 per USD. Sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp18.184 per USD. Mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 75 poin sebelum penguatannya menyusut menjelang penutupan perdagangan.
Meski mencatatkan penguatan, pergerakan rupiah masih menghadapi sejumlah risiko. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, konflik geopolitik di Timur Tengah, dan tekanan inflasi menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari eksternal, pelaku pasar mencermati keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4%. Keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral AS, dengan dua pejabat memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.230 per USD, Ini Pemicunya
Ketua The Fed, Kevin Warsh menyampaikan bahwa pengetatan kebijakan moneter mulai menunjukkan hasil, meskipun inflasi AS masih berada pada tingkat tinggi. Ia juga menegaskan komitmen bank sentral untuk mencapai stabilitas harga dengan target inflasi sebesar 2% berdasarkan indikator pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE).
Sikap The Fed menjadi perhatian karena arah suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik dolar terhadap mata uang lainnya. Apabila suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, aset berbasis dolar berpotensi tetap menarik bagi investor. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, apabila pasar melihat peluang pelonggaran kebijakan moneter AS, tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi mereda. Namun, arah pergerakan dolar juga dipengaruhi perkembangan inflasi, kondisi ekonomi AS, dan perubahan selera risiko investor.
Dengan demikian, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga belum serta-merta menjadi jaminan bahwa rupiah akan menguat. Pasar masih perlu mencermati sinyal kebijakan berikutnya dan perkembangan data ekonomi yang menjadi pertimbangan bank sentral AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah







