Akurat Logo

5 Adab Seorang Muslim saat Mendengar Khutbah Jumat

Lufaefi | 30 Oktober 2026, 07:30 WIB
5 Adab Seorang Muslim saat Mendengar Khutbah Jumat
Khutbah Jumat - Ilustrasi

AKURAT.CO Salat Jumat bukan sekadar kewajiban mingguan bagi umat Islam, tetapi juga momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan mengingat kembali tanggung jawab sebagai seorang Muslim.

Salah satu bagian penting dalam pelaksanaan salat Jumat adalah khutbah yang disampaikan khatib sebelum salat. Di dalamnya terdapat nasihat, pengingat ketakwaan, serta ajakan untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan Allah SWT. Karena itu, mendengarkan khutbah bukan sekadar hadir secara fisik di masjid, melainkan juga menghadirkan perhatian dan adab selama nasihat disampaikan.

Rasulullah SAW memberikan teladan tentang pentingnya menjaga sikap ketika khutbah berlangsung. Berikut lima adab yang patut diperhatikan setiap Muslim saat mendengarkan khutbah Jumat.

Pertama, diam dan menyimak khutbah dengan sungguh-sungguh. Ketika khatib mulai menyampaikan khutbah, jamaah hendaknya menghentikan percakapan dan memusatkan perhatian. Allah SWT berfirman dalam surah Al-A'raf ayat 204:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raf: 204).

Baca Juga: Rutinitas Rasulullah di Hari Jumat, Patut Anda Ikuti!

Meskipun ayat ini berbicara tentang mendengarkan bacaan Al-Qur'an, prinsip menghormati dan menyimak dengan baik juga relevan sebagai pengingat dalam menjaga adab di majelis ilmu. Secara khusus, terdapat hadis sahih yang menegaskan larangan berbicara ketika imam sedang berkhutbah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika seseorang berkata kepada temannya, "Diamlah!" ketika imam sedang berkhutbah, ia telah melakukan perbuatan sia-sia. Hadis ini menunjukkan bahwa menegur orang lain dengan berbicara pun perlu dihindari saat khutbah berlangsung.

Kedua, tidak menyibukkan diri dengan ponsel. Di era digital, ponsel kerap menjadi sumber gangguan perhatian. Sebagian jamaah mungkin membuka pesan, memeriksa media sosial, atau membaca informasi lain ketika khatib sedang berbicara. Kebiasaan ini dapat mengurangi kesempatan untuk menyerap nasihat yang disampaikan.

Karena itu, sebaiknya ponsel diatur dalam mode senyap dan disimpan selama khutbah berlangsung. Kehadiran di masjid hendaknya menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital dan memusatkan perhatian pada ibadah.

Ketiga, tidak melakukan gerakan yang mengganggu konsentrasi. Jamaah sebaiknya menghindari bermain-main dengan karpet, pakaian, benda di sekitar, atau melakukan aktivitas yang tidak diperlukan. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim bahwa orang yang melakukan gerakan sia-sia ketika imam sedang berkhutbah telah melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Pesan ini bukan berarti jamaah dilarang bergerak sama sekali, melainkan menghindari gerakan yang tidak perlu dan dapat mengganggu kekhusyukan diri sendiri maupun orang lain.

Keempat, datang lebih awal dan duduk dengan tertib. Membiasakan diri datang ke masjid sebelum khutbah dimulai memberikan kesempatan untuk beribadah, berzikir, dan menempati tempat duduk tanpa tergesa-gesa. Jamaah juga hendaknya tidak melangkahi pundak orang lain atau memaksakan diri menerobos barisan untuk mendapatkan tempat tertentu.

Baca Juga: Pandangan Islam Terhadap Fenomena Privilese Jalur Orang Dalam

Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW memberikan teguran kepada seseorang yang melangkahi leher jamaah pada hari Jumat saat beliau sedang berkhutbah. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa keinginan memperoleh tempat yang baik tidak boleh mengabaikan kenyamanan orang lain.

Kelima, merenungkan isi khutbah dan berusaha mengamalkannya. Mendengarkan khutbah tidak cukup hanya dengan menjaga tubuh tetap diam. Nasihat yang disampaikan perlu menjadi bahan evaluasi diri. Ketika khatib mengingatkan tentang kejujuran, misalnya, jamaah dapat memeriksa kembali perilakunya dalam pekerjaan dan kehidupan keluarga.

Ketika khutbah membahas kepedulian sosial, seseorang dapat memikirkan langkah nyata untuk membantu sesama. Dengan demikian, khutbah tidak berhenti sebagai rutinitas mingguan, tetapi menjadi sarana memperbaiki kualitas kehidupan.

Pada akhirnya, adab mendengarkan khutbah Jumat mencerminkan penghormatan seorang Muslim terhadap ibadah, ilmu, dan sesama jamaah. Diam, menyimak, menghindari gangguan, datang dengan tertib, serta merenungkan nasihat merupakan kebiasaan sederhana yang membawa nilai besar dalam kehidupan beragama.

Jumat demi Jumat akan terasa lebih bermakna apabila setiap nasihat tidak hanya didengar oleh telinga, tetapi juga direnungkan oleh hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata setelah meninggalkan masjid.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi