Gubernur BI Harus Tangguh Hadapi Gejolak Global dan Tetap Independen

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru, Destry Damayanti, dituntut memiliki pengalaman dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan ekonomi, sekaligus menjaga independensi dalam mengambil kebijakan moneter.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai, tantangan BI ke depan tidak hanya berkaitan dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, tetapi juga kemampuan bank sentral merespons gejolak geopolitik global yang berpotensi menekan perekonomian nasional.
Karena itu, ia menilai pemilihan gubernur bank sentral seyogianya ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional dan keberlanjutan stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
Iwan mengatakan keputusan Presiden Prabowo Subianto memilih sosok dengan pengalaman panjang di bidang moneter dan perekonomian menunjukkan adanya pertimbangan terhadap kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Dari awal Presiden Prabowo Subianto mengusulkan nama ini lebih melihat pada kepentingan nasional, bagaimana kemudian keberlanjutan dan stabilitas ekonomi nasional ke depan,” kata Iwan dalam Diskusi Koordinator Wartawan Parlemen (KWP) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, pengalaman panjang di sektor moneter menjadi modal penting bagi seorang gubernur bank sentral.
Pengalaman tersebut dinilai dapat membantu BI menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks, terutama ketika ketidakpastian global dapat dengan cepat memengaruhi pasar keuangan domestik.
Selain pengalaman, Iwan menilai rekam jejak di lingkungan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuan gubernur baru menjalankan mandat bank sentral secara optimal.
Baca Juga: Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI Periode 2026-2031
Ia menegaskan, BI harus tetap mengedepankan independensi dan terbebas dari intervensi kepentingan politik dalam menjalankan kebijakan moneter.
“Gubernur BI atau bank sentral ini harus independen, harus jauh dari intervensi politik,” ujarnya.
Iwan juga menyoroti potensi dampak gejolak harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, perubahan harga minyak dapat meningkatkan biaya energi domestik dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat.
Terlebih, Indonesia masih memiliki sejumlah kerentanan terhadap gejolak eksternal, salah satunya melalui ketergantungan terhadap impor energi.
“Karena itu, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu pekerjaan utama gubernur BI. Rupiah yang bergejolak dapat meningkatkan biaya impor dan menciptakan tekanan tambahan terhadap harga barang serta inflasi,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Korlantas Polri Jemput Bola Pelayanan Pengurusan SIM hingga Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren
- 8Inggris, Jerman, dan Swedia Peringatkan Warga Bersiap Hadapi Perang, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






