Konflik AS-Iran Jadi Ancaman Baru bagi Stabilitas Ekonomi Indonesia

AKURAT.CO Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran mulai menjadi perhatian utama pemerintah terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai eskalasi geopolitik tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perekonomian global melalui lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga meningkatnya arus modal keluar dari negara berkembang.
Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan tekanan eksternal kembali meningkat sepanjang triwulan II 2026 dan berlanjut hingga Juli setelah konflik AS-Iran kembali memanas.
Baca Juga: Tegaskan Dana Pendidikan Tak Lagi Untuk MBG Mulai 2028, Purbaya: Kita Ikuti Putusan MK
"Memasuki triwulan II 2026, tekanan eksternal kembali meningkat, seiring eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi tinggi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal," ujar Purbaya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Menurut KSSK, konflik di Timur Tengah kembali mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz setelah sempat membaik pasca kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026.
Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu distribusi energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak serta komoditas strategis.
Tekanan tersebut juga tercermin pada pasar keuangan global. Ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih bertahan seiring meningkatnya risiko inflasi.
Di saat yang sama, fenomena flight to safety kembali menguat, ditandai penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan meningkatnya tekanan terhadap arus modal di negara berkembang.
Di tengah kondisi tersebut, KSSK menilai fundamental ekonomi domestik masih relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap kuat, didukung konsumsi rumah tangga, investasi pada proyek hilirisasi, serta percepatan belanja pemerintah.
Baca Juga: Kenapa Danantara Diundang ke Rapat KSSK? Ini Penjelasan Purbaya
Meski demikian, pemerintah menegaskan risiko global tetap perlu diantisipasi agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan nasional.
"Risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dipandang perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," kata Purbaya.
KSSK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 5,6-6%, dengan dukungan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









