Patuhi Hukum UNCLOS, Pajak Selat Malaka Tidak Masuk Agenda

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menegaskan tidak memiliki rencana untuk mengenakan pajak terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka.
Penegasan ini disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa untuk meluruskan kabar yang menyebut adanya wacana pemungutan tarif atas jalur pelayaran internasional tersebut.
“Tidak dalam konteks serius. Kita belum pernah merencanakan untuk mengutip (pajak),” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga: Wacana Penetapan Pajak Selat Malaka, Seberapa Mendesak?
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah posisi Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan, serta menjadi lintasan utama perdagangan global, termasuk pengiriman energi dan barang manufaktur.
Dalam konteks hukum internasional, Indonesia sebagai negara pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka terikat pada ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang telah diratifikasi. Salah satu prinsip utama dalam konvensi tersebut adalah kebebasan bernavigasi (freedom of navigation).
Purbaya menegaskan, prinsip tersebut mengharuskan negara pantai untuk tidak menghambat lalu lintas kapal di perairan internasional, termasuk di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
“Dalam prinsip freedom of navigation, kita wajib mengizinkan kapal-kapal melintas, bahkan turut menjaga keamanan di wilayah tersebut,” kata dia.
Selat Malaka sendiri memiliki nilai strategis yang tinggi. Selain menjadi jalur perdagangan utama, kawasan ini juga memiliki implikasi geopolitik dan keamanan yang signifikan. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan jalur ini harus mempertimbangkan aspek hukum internasional serta stabilitas kawasan.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa pemahamannya terhadap UNCLOS tidak terlepas dari pengalamannya saat menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada periode 2018–2020.
Pengalaman tersebut, menurut dia, memperkuat komitmen pemerintah dalam menjaga kepatuhan terhadap hukum laut internasional.
Penegasan pemerintah ini sekaligus menjawab kekhawatiran pelaku industri pelayaran dan perdagangan global yang sensitif terhadap potensi perubahan kebijakan di jalur strategis seperti Selat Malaka.
Bagi Indonesia, menjaga kepastian hukum dan stabilitas jalur pelayaran merupakan bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan internasional, sekaligus memastikan kelancaran arus logistik global.
Dengan demikian, kebijakan fiskal di sektor maritim tetap harus selaras dengan komitmen internasional yang telah disepakati, termasuk dalam kerangka UNCLOS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa









