APBN Februari 2026 Defisit Rp135,7 T, Pajak Tumbuh 30,4 Persen

AKURAT.CO Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 28 Februari 2026.
Meski demikian, penerimaan pajak menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 30,4% secara tahunan.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan penerimaan pajak dalam dua bulan pertama tahun ini menunjukkan kinerja yang stabil.
Baca Juga: Habiburokhman Ingatkan Adian: Jangan Cari Panggung, APBN Disetujui Bersama
“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama tahun 2026 ini tumbuh sebesar 30 persen, baik di Januari maupun Februari, artinya stabil di sana. Dan kami pastikan itu akan stabil terus ke depan,” kata Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat.
Secara keseluruhan, pendapatan negara hingga akhir Februari tercatat Rp358 triliun atau 11,4% dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 12,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan mencapai Rp290 triliun atau 10,8% dari target. Rinciannya terdiri dari pajak Rp245,1 triliun (tumbuh 30,4%) dan kepabeanan serta cukai Rp44,9 triliun yang mengalami kontraksi 14,7%.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp68 triliun atau 14,8% dari target, turun 11,4% secara tahunan.
Baca Juga: Purbaya: Gejolak Konflik Timur Tengah Belum Guncang APBN Signifikan
Dalam beberapa tahun terakhir, defisit APBN pada awal tahun kerap terjadi karena pola realisasi belanja yang biasanya lebih cepat dibanding penerimaan.
Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 tetap terjaga di bawah batas aman fiskal 3% PDB.
Kinerja pajak menjadi indikator penting bagi kesehatan fiskal karena menyumbang porsi terbesar dalam struktur pendapatan negara.
"Pertumbuhan penerimaan pajak menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan. Stabilitas fiskal juga menjadi faktor penting bagi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk pasar obligasi pemerintah," ujarnya.
Namun penurunan penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai menunjukkan adanya tekanan pada perdagangan dan konsumsi tertentu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa









