Lonjakan Minyak Bisa Tekan APBN, Ini Hitungannya

AKURAT.CO Ketergantungan terhadap dinamika harga energi global kembali menjadi sorotan dalam pengelolaan fiskal Indonesia.
Pemerintah mengakui bahwa fluktuasi harga minyak mentah memiliki dampak signifikan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengungkapkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel berpotensi menambah defisit fiskal hingga Rp6,8 triliun.
Angka tersebut menggambarkan tingkat sensitivitas APBN terhadap pergerakan harga energi global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Pajak Tumbuh 20,7 Persen, Bantalan Fiskal APBN 2026 Menguat
“Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah telah mengirimkan guncangan ke pasar energi global. Harga minyak melonjak, inflasi meningkat, dan sentimen investor turut berubah,” ucapnya di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Diketahui, saat ini, harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di kisaran USD79 per barel. Namun, dalam skenario tekanan global, harga minyak diperkirakan bisa menembus USD100 per barel.
Jika skenario tersebut terjadi, maka tekanan terhadap APBN dipastikan meningkat, terutama melalui peningkatan beban subsidi energi dan potensi pelebaran defisit anggaran.
Selain itu, dampak kenaikan harga minyak juga merambat ke sektor lain, seperti transportasi, logistik, dan pangan, yang berkontribusi terhadap inflasi domestik.
Dalam konteks global, kenaikan harga energi juga memengaruhi arus modal dan stabilitas pasar keuangan. Investor cenderung bersikap lebih berhati-hati, yang dapat berdampak pada nilai tukar dan pembiayaan eksternal.
Baca Juga: S&P Pertahankan BBB, Defisit APBN Diproyeksi Menyempit
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah mengandalkan kombinasi kebijakan fiskal dan pembiayaan untuk menjaga stabilitas.
Dari sisi belanja, pemerintah melakukan efisiensi anggaran tanpa mengganggu program prioritas. Program-program yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat tetap dipertahankan.
Sedangkan dari sisi penerimaan, lanjut Juda, pemerintah terus mendorong optimalisasi pajak melalui digitalisasi sistem Coretax, serta memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas untuk meningkatkan penerimaan negara.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat pembiayaan alternatif melalui Badan Pengelola Investasi Danantara untuk mendukung kebutuhan pembangunan.
Juda berharap melalui langkah-langkah tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap APBN sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit








