IHSG Menguat saat Bursa Asia Melemah, Ditopang Sentimen APBN 2026

AKURAT.CO Indeks harga saham gabungan (IHSG) menutup sesi I perdagangan Jumat (14/11/2025) dengan penguatan tipis sebesar 12,43 poin atau 0,15% ke level 8.384,43.
Kenaikan ini terjadi ketika mayoritas bursa Asia bergerak melemah, menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks yang tetap berada di zona hijau.
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya menjelaskan, reli IHSG pada perdagangan hari ini ditopang oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama terkait rencana pemerintah mengenai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Baca Juga: Akhir Pekan IHSG Bakal Melemah ke Kisaran 8.325-8.350? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
Pemerintah menargetkan defisit APBN tahun depan berada di level 2,68% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dari batas aman 2,45–2,53% yang sebelumnya dirilis Kementerian Keuangan.
“Peningkatan ini diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan transfer dana ke daerah yang lebih besar, guna mempercepat laju pertumbuhan ekonomi,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (14/11/2025).
Meski demikian, Pilarmas menegaskan bahwa target defisit tersebut masih berada di bawah batas maksimal 3% yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Selain faktor fiskal, penguatan IHSG juga dipicu oleh kenaikan sejumlah saham anggota indeks LQ45 serta optimisme pelaku pasar terhadap potensi window dressing pada Desember.
Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks saham Asia pada akhir pekan ini bergerak negatif. Pilarmas menyebut pelaku pasar mengambil sikap defensif akibat beragam sentimen global, mulai dari ketidakpastian rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) hingga sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral negara tersebut.
Sentimen makin tertekan setelah Gedung Putih menyampaikan bahwa sebagian data ekonomi AS untuk Oktober kemungkinan tidak akan dirilis akibat kegagalan beberapa lembaga mengumpulkan data selama masa shutdown pemerintahan yang berlangsung 43 hari.
“Ketidakpastian rilis data ekonomi AS membuat arah kebijakan The Fed menjadi suram,” tulis Pilarmas.
Baca Juga: IHSG Ditutup Memerah 0,2 Persen, Sektor Industri Paling Parah
Selain itu, sejumlah pejabat The Fed juga memberikan pernyataan yang menurunkan ekspektasi pasar terkait peluang penurunan suku bunga pada Desember, sehingga memperkuat sikap hati-hati investor.
Dari Asia, rilis data ekonomi China turut memberi tekanan tambahan. Penjualan ritel pada Oktober 2025 tumbuh 2,9% secara tahunan, sedikit melambat dari 3% pada September dan menjadi pertumbuhan terendah sejak Agustus 2024.
Produksi industri China juga mengalami perlambatan, hanya tumbuh 4,9% secara tahunan, jauh di bawah capaian September sebesar 6,5% dan di bawah ekspektasi pasar 5,5%.
Pada sesi I, sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan, antara lain DPUM, TRUK, PURI, KDTN, dan SRAJ. Adapun saham yang mengalami penurunan terdalam meliputi TIRA, BAHA, BELL, SKRN, dan SSTM.
Untuk sesi II, Pilarmas memberikan rekomendasi beli untuk saham ANTM. “Kami merekomendasikan ANTM dengan level support dan resistance di 2.880–3.070,” tulis Pilarmas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









