Ini Risiko Yang Perlu Diwaspadai Perbankan di 2024 Menurut Mirae

AKURAT.CO Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyoroti risiko yang bisa dihadapi sektor perbankan tahun ini.
Salah satunya adalah penurunan kewaspadaan perbankan dalam penyaluran kredit, terutama setelah berakhirnya stimulus restrukturisasi kredit Covid-19 pada 31 Maret 2024. Saat ini, Loan at Risk (LAR) masih tinggi, mencapai 11,56% per-Februari 2024.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan, terutama tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
"Kami memandang bahwa dengan kebijakan makroprudensial yang longgar dan disertai dengan likuiditas yang masih memadai, pertumbuhan kredit masih akan tetap kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia meski di tengah berbagai tantangan di sepanjang tahun 2024 ini," kata Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas, Selasa (23/4/2024).
Rully mengatakan bahwa pergerakan Rupiah sulit diprediksi dalam jangka menengah, dipengaruhi oleh isu global, bukan faktor domestik. Pelemahan Rupiah lebih disebabkan oleh kebijakan suku bunga the Fed yang mempengaruhi volatilitas pasar global.
Baca Juga: Ketahanan Perbankan Terjaga Di Tengah Tekanan Penguatan Dolar AS
Dampak dari sentimen global tersebut juga mempengaruhi aliran modal asing keluar dari Indonesia, yang mempersulit Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Kendati demikian, Rully tetap optimis dengan prospek sektor perbankan yang cerah setelah melalui era kebijakan restrukturisasi pandemi Covid-19.
Dia percaya bahwa pertumbuhan kredit di sektor ini akan terus meningkat, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang berada di kisaran 10-12%.
Selain itu, Rully juga mengacu kepada Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menunjukkan tanda-tanda membaik pada bulan Januari dan Februari, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 5,8% secara year-on-year (yoy) dan 5,7% yoy. Angka ini menunjukkan pemulihan dibandingkan tiga bulan sebelumnya di tahun 2023 yang hanya tumbuh di bawah 4% yoy.
Menurut Rully, rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) masih terjaga baik di bawah 85%, dan tingkat kredit bermasalah atau (Nonperforming Loan/NPL) tetap rendah.
Hal ini menunjukkan ada potensi bagi pertumbuhan kredit lebih lanjut. Kondisi ini didorong oleh kebijakan makroprudensial pemerintah yang mendukung pertumbuhan.
Pertumbuhan kredit pada Januari 2024 mencapai 11,8% yoy, yang merupakan angka tertinggi dalam hampir lima tahun terakhir. Sementara pada Februari 2024, pertumbuhannya sedikit menurun tetapi masih tinggi, sebesar 11,3% yoy. Di sisi lain, tingkat NPL tetap rendah pada 2,35%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 3Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







