Akurat Logo

Panduan Rasulullah untuk Gen Z Saat Menghadapi Tekanan Emosi yang Meluap

Lufaefi | 28 Oktober 2026, 05:15 WIB
Panduan Rasulullah untuk Gen Z Saat Menghadapi Tekanan Emosi yang Meluap
Tips meredam emosi saat marah - Istimewa

AKURAT.CO Tekanan hidup bisa datang dari banyak arah. Tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, persoalan keluarga, hubungan pertemanan, masalah finansial, hingga tekanan di media sosial dapat membuat emosi seseorang naik turun. Bagi generasi muda yang hidup dalam ritme serba cepat, kondisi tersebut kadang membuat marah, kecewa, cemas, atau merasa ingin meluapkan semuanya sekaligus.

Dalam situasi seperti itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan emosi. Perasaan marah, sedih, kecewa, dan takut merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seseorang mengelola emosi tersebut agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Rasulullah SAW memberikan teladan penting dalam mengendalikan amarah. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Sering Kena Mental Health Break? Ini Cara Rasulullah Mengatasi Burnout dan Tekanan Hidup yang Bisa Ditiru Gen Z

Pesan ini terasa relevan di era media sosial. Ketika emosi sedang memuncak, seseorang mungkin tergoda langsung membalas pesan, menulis komentar pedas, mengunggah sindiran, atau mengambil keputusan secara spontan. Padahal, beberapa detik untuk berhenti dapat mencegah persoalan yang jauh lebih panjang.

Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk sederhana ketika seseorang sedang marah. Dalam hadis disebutkan:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaknya ia duduk. Jika kemarahannya belum juga reda, hendaknya ia berbaring.” (HR. Abu Dawud).

Petunjuk tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan jeda ketika emosi meningkat. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip itu dapat diterapkan dengan menjauh sementara dari sumber konflik, tidak langsung membalas pesan, mengambil waktu untuk menenangkan diri, atau melakukan aktivitas yang membantu mengurangi ketegangan.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemarahan tidak harus dibalas dengan kemarahan. Ketika seseorang meminta nasihat, beliau bahkan memberikan pesan yang sangat singkat:

لَا تَغْضَبْ

“Jangan marah.” (HR. Bukhari).

Pesan tersebut bukan berarti manusia dilarang memiliki emosi marah. Maksudnya adalah jangan membiarkan kemarahan menguasai tindakan. Seseorang tetap boleh merasa kecewa atau tidak setuju, tetapi responsnya perlu dikendalikan dengan pertimbangan yang matang.

Gen Z juga dapat belajar mengelola tekanan dengan membangun ruang untuk berbicara. Memendam persoalan terlalu lama bukan satu-satunya pilihan. Berbicara kepada orang yang dipercaya, keluarga, sahabat, guru, atau pihak yang kompeten dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Jika tekanan terasa berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan bentuk ikhtiar menjaga diri.

Selain mengelola respons terhadap orang lain, seorang Muslim dapat memperkuat ketenangan batin melalui ibadah. Al-Qur'an mengingatkan bahwa mengingat Allah dapat menjadi salah satu sumber ketenteraman hati.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28).

Baca Juga: Hukum Menjarah Barang Korban Kebakaran dalam Islam

Mengelola emosi karena itu bukan berarti menjadi pribadi yang tidak pernah marah. Justru, kematangan emosional terlihat ketika seseorang mampu mengenali perasaannya, memberi jeda sebelum bertindak, dan memilih respons yang tidak memperburuk keadaan.

Bagi Gen Z, teladan Rasulullah SAW dapat diterjemahkan dalam kebiasaan sederhana: jangan langsung membalas ketika emosi memuncak, beri tubuh dan pikiran waktu untuk tenang, jaga ucapan, cari tempat bercerita yang aman, dan jangan ragu meminta bantuan ketika tekanan sudah terasa terlalu berat.

Pada akhirnya, kekuatan bukan selalu tentang siapa yang paling keras bersuara atau paling cepat membalas. Dalam perspektif Islam, kekuatan justru tampak ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya pada saat emosi sedang berada di titik tertinggi. Di tengah dunia yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi mungkin menjadi salah satu bentuk kedewasaan yang paling penting.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi