Karhutla Makin Parah, Saatnya Kita Mengamalkan “Tobat Ekologis” Sebelum Memohon Hujan Melalui Salat Istisqa

AKURAT.CO Asap kembali menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah. Langit yang biasanya biru berubah kelabu, udara menjadi pekat, sementara masyarakat harus berhadapan dengan berbagai gangguan akibat kualitas udara yang memburuk.
Di tengah kondisi seperti ini, muncul pertanyaan penting bagi umat Islam: apakah cukup hanya memohon hujan melalui salat istisqa, atau ada sesuatu yang juga harus diperbaiki dari perilaku manusia?
Salat istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual ketika terjadi kekeringan dan manusia membutuhkan hujan. Dalam tradisi Islam, umat dianjurkan mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak istighfar, berdoa, serta memohon agar diturunkan hujan yang membawa manfaat.
Namun, memohon hujan semestinya tidak membuat manusia melupakan tanggung jawab ekologis. Jika kerusakan lingkungan terjadi karena keserakahan, pembakaran lahan, eksploitasi berlebihan, atau perilaku manusia yang mengabaikan keseimbangan alam, maka introspeksi menjadi bagian penting dari ikhtiar.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Baca Juga: 5 Kebiasaan Pagi Penuh Berkah ala Rasulullah yang Bikin Seharian Lebih Produktif
Ayat tersebut mengajarkan bahwa kerusakan lingkungan tidak selalu dapat dipandang sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ada kemungkinan perilaku manusia ikut menjadi bagian dari persoalan. Karena itu, ketika karhutla terjadi, masyarakat perlu melihat persoalan secara lebih luas: bukan hanya bagaimana mendapatkan hujan, tetapi juga bagaimana mencegah kebakaran dan kerusakan serupa kembali terjadi.
Di sinilah gagasan “tobat ekologis” menjadi relevan. Tobat tidak berhenti pada penyesalan dalam hati atau ucapan istighfar. Jika kerusakan lingkungan terjadi akibat tindakan manusia, pertobatan idealnya juga diwujudkan melalui perubahan perilaku.
Bagi masyarakat, bentuknya bisa sederhana. Tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, menghemat sumber daya, menjaga kawasan hijau, dan ikut melaporkan potensi kebakaran merupakan bagian dari tanggung jawab ekologis.
Bagi perusahaan, pemerintah, dan pemegang kebijakan, tanggung jawabnya tentu lebih besar. Pengawasan terhadap pembukaan lahan, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, perlindungan kawasan gambut dan hutan, serta kesiapan menghadapi kebakaran harus menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan masyarakat.
Islam sendiri memberikan prinsip yang tegas tentang larangan membuat kerusakan. Allah SWT berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Karena itu, salat istisqa dan tanggung jawab ekologis seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan. Manusia berdoa kepada Allah agar hujan diturunkan, sekaligus memperbaiki perilaku yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan.
Memohon hujan tanpa mengevaluasi perilaku manusia berisiko menjadikan doa sekadar ritual yang terpisah dari tanggung jawab sosial. Sebaliknya, mengandalkan usaha teknis tanpa kesadaran spiritual juga dapat membuat manusia lupa bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi.
Tobat ekologis pada akhirnya mengajak kita melihat lingkungan sebagai amanah. Hutan bukan hanya sumber ekonomi, lahan bukan sekadar aset, dan udara bersih bukan kemewahan. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Baca Juga: Bukan Cuma Penenang Hati, Ini Manfaat Luar Biasa Gerakan Shalat untuk Kesehatan Fisik
Maka, ketika umat berkumpul melaksanakan salat istisqa, doa untuk turunnya hujan sebaiknya berjalan bersama tekad untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam. Kita meminta hujan kepada Allah, tetapi pada saat yang sama memastikan ketika hujan datang, hutan tidak kembali dibakar, lahan tidak dieksploitasi secara serampangan, dan lingkungan tidak terus-menerus dirusak.
Sebab, menghadapi karhutla bukan hanya persoalan menunggu hujan turun. Ada pekerjaan besar yang harus dilakukan manusia: bertobat, memperbaiki perilaku, menjaga alam, dan memastikan bencana yang sama tidak terus berulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 4Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 8Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa





