Akurat Logo

Belajar dari Tragedi KMP Batumandi: Mengapa Islam Sangat Menekankan Adab Keselamatan dan Doa Sebelum Bepergian?

Lufaefi | 21 Oktober 2026, 09:40 WIB
Belajar dari Tragedi KMP Batumandi: Mengapa Islam Sangat Menekankan Adab Keselamatan dan Doa Sebelum Bepergian?
ilustrasi tragedi kapal - istimewa

AKURAT.CO Perjalanan dengan kapal, pesawat, kereta, maupun kendaraan darat merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, setiap perjalanan selalu memiliki risiko yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi manusia.

Peristiwa yang melibatkan KMP Batumandi menjadi pengingat bahwa keselamatan perjalanan tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kewaspadaan, persiapan, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Dalam Islam, menjaga keselamatan bukan perkara sepele. Kehidupan manusia merupakan amanah dari Allah sehingga tidak boleh sengaja dipertaruhkan tanpa alasan yang dibenarkan. Karena itu, doa sebelum bepergian seharusnya tidak dipahami sebagai pengganti kewaspadaan, melainkan sebagai bentuk tawakal setelah seseorang melakukan ikhtiar.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Ayat tersebut memberikan prinsip penting bahwa seorang Muslim harus menghindari tindakan yang dapat membahayakan dirinya. Dalam konteks perjalanan, prinsip ini dapat diterapkan dengan memastikan kendaraan layak digunakan, mematuhi aturan keselamatan, memperhatikan kondisi cuaca, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta tidak mengabaikan peringatan dari pihak berwenang.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Pagi Penuh Berkah ala Rasulullah yang Bikin Seharian Lebih Produktif

Islam juga mengajarkan agar seseorang tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Keselamatan orang lain merupakan tanggung jawab bersama. Rasulullah SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Prinsip ini menjadi sangat relevan dalam transportasi. Pengelola kendaraan memiliki tanggung jawab memastikan aspek keselamatan, sementara penumpang juga memiliki kewajiban mematuhi prosedur yang telah ditetapkan. Keselamatan tidak akan tercipta jika hanya mengandalkan satu pihak.

Selain ikhtiar, seorang Muslim dianjurkan membaca doa ketika hendak melakukan perjalanan. Allah SWT mengajarkan doa berkendara dalam Al-Qur'an:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ۝ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Az-Zukhruf: 13–14).

Doa tersebut mengandung kesadaran bahwa kemampuan manusia melakukan perjalanan merupakan bagian dari nikmat Allah. Kendaraan adalah sarana, sedangkan keselamatan pada akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya.

Menariknya, doa perjalanan juga mengajarkan kerendahan hati. Manusia boleh memiliki teknologi transportasi yang semakin canggih, tetapi tetap tidak mampu mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi selama perjalanan. Karena itu, doa menjadi bentuk pengakuan bahwa ikhtiar manusia memiliki batas.

Namun, jangan sampai doa justru digunakan untuk membenarkan kelalaian. Membaca doa sebelum naik kapal tidak berarti seseorang boleh mengabaikan jaket pelampung. Berdoa sebelum berkendara bukan alasan untuk mengemudi secara ugal-ugalan. Tawakal tidak sama dengan pasrah tanpa usaha.

Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan tersebut dalam sabdanya:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.” (HR. al-Tirmidzi).

Pesannya sederhana tetapi sangat kuat: lakukan tindakan pencegahan, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.

Karena itu, tragedi dalam perjalanan seharusnya tidak berhenti menjadi berita yang menyedihkan. Ia perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi budaya keselamatan. Apakah standar keselamatan telah benar-benar dipatuhi? Apakah penumpang memahami prosedur darurat? Apakah operator telah melakukan pemeriksaan secara memadai? Dan apakah masyarakat masih menganggap aturan keselamatan sebagai formalitas?

Baca Juga: Bukan Cuma Penenang Hati, Ini Manfaat Luar Biasa Gerakan Shalat untuk Kesehatan Fisik

Dalam perspektif Islam, menjaga keselamatan merupakan bagian dari menjaga jiwa atau hifz al-nafs, salah satu tujuan penting syariat. Maka, menggunakan alat keselamatan, mematuhi aturan, memilih perjalanan yang aman, dan mengingatkan orang lain agar berhati-hati bukan tindakan berlebihan.

Perjalanan yang baik bukan sekadar sampai di tujuan. Ia adalah perjalanan yang ditempuh dengan persiapan, kehati-hatian, doa, dan tawakal. Sebab, dalam Islam, keberanian bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan berani bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi