Gen Z Wajib Tahu! Ini Panduan Islam Menjaga Self-Discipline dari Flexing

AKURAT.CO Media sosial membuat banyak hal dalam hidup mudah dipertontonkan. Makan di restoran mahal, membeli gawai terbaru, bepergian ke tempat populer, memakai pakaian bermerek, hingga menunjukkan pencapaian karier kini bisa dibagikan hanya dalam hitungan detik. Tidak selalu salah, tetapi ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apakah kita membagikannya karena memang perlu, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?
Di sinilah fenomena flexing menjadi menarik jika dilihat dari perspektif Islam. Flexing bukan sekadar soal memamerkan harta. Ia dapat menjadi kebiasaan mencari validasi melalui apa yang dimiliki, dicapai, atau ditampilkan kepada orang lain. Jika tidak dikendalikan, seseorang bisa perlahan kehilangan kemampuan untuk merasa cukup dan mulai mengukur harga dirinya berdasarkan respons publik.
Islam sebenarnya memiliki konsep yang sangat dekat dengan persoalan ini, yaitu menjaga hati dari riya, ujub, dan kecenderungan berlebihan dalam menikmati dunia. Allah mengingatkan manusia agar tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai ajang bermegah-megahan.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat tersebut tidak berarti Islam melarang seseorang memiliki harta atau menikmati hasil kerja keras. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepemilikan dan pencapaian berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan pengakuan. Seseorang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu bermanfaat, tetapi mulai bertanya apakah orang lain akan kagum melihatnya.
Baca Juga: Terungkap Alasan Anak Muda Korea Selatan Memilih Masuk Islam
Bagi Gen Z, godaan semacam ini semakin kuat karena media sosial bekerja dengan sistem yang sangat bergantung pada perhatian. Jumlah likes, komentar, views, dan followers terkadang tanpa sadar dijadikan ukuran keberhasilan. Akibatnya, kehidupan nyata bisa terasa kurang menarik dibandingkan kehidupan yang terlihat di layar.
Karena itu, self-discipline dalam Islam bukan hanya kemampuan mengatur waktu atau menyelesaikan pekerjaan. Ia juga mencakup kemampuan mengendalikan keinginan untuk selalu terlihat hebat di hadapan orang lain.
Langkah pertama adalah belajar membedakan berbagi dan pamer. Membagikan pencapaian untuk menginspirasi orang lain tentu berbeda dengan sengaja menampilkan sesuatu demi memperoleh pujian. Ukurannya bukan hanya bentuk unggahannya, tetapi juga niat yang berada di baliknya.
Kedua, biasakan bertanya sebelum mengunggah sesuatu: apakah ini benar-benar perlu diketahui orang lain? Apakah unggahan ini memberikan manfaat? Atau sebenarnya saya hanya sedang membutuhkan validasi?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem sebelum seseorang mengunggah terlalu banyak hal tentang kehidupan pribadinya.
Ketiga, belajar menikmati sesuatu tanpa harus selalu mendokumentasikannya. Tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton. Ada perjalanan yang cukup dikenang sendiri, ada sedekah yang lebih indah ketika tidak diketahui publik, dan ada pencapaian yang justru terasa lebih bermakna ketika tidak menjadi bahan perbandingan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa penampilan luar tidak selalu menggambarkan kualitas batin. Dua orang dapat melakukan tindakan yang sama, tetapi memiliki tujuan yang berbeda. Karena itu, pengendalian diri perlu dimulai dari dalam, bukan sekadar mengurangi frekuensi mengunggah konten.
Self-discipline juga berarti mampu mengatakan “cukup”. Ketika pendapatan meningkat, tidak otomatis semua harus dinaikkan. Ketika memiliki kemampuan membeli sesuatu, bukan berarti semuanya harus dibeli. Ketika mendapatkan pencapaian, tidak berarti seluruh dunia harus mengetahuinya.
Islam mengajarkan keseimbangan. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67)
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling sukses di media sosial. Ada kehidupan nyata yang jauh lebih penting daripada kehidupan yang tampil di layar. Kekayaan yang tidak membuat sombong, pencapaian yang tidak membuat merendahkan orang lain, serta kemampuan menikmati nikmat Allah tanpa membutuhkan tepuk tangan manusia adalah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya.
Baca Juga: Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya
Bagi Gen Z, mungkin tantangannya bukan sekadar bagaimana menjadi sukses, tetapi bagaimana tetap waras ketika sukses. Bukan sekadar bagaimana memiliki sesuatu, tetapi bagaimana memiliki tanpa diperbudak oleh keinginan untuk memamerkannya.
Sebab, ketika kita mulai mampu menikmati nikmat tanpa harus menunjukkannya kepada semua orang, di situlah self-discipline menemukan maknanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang




