Akurat Logo

Seni Islami Mengatur Prioritas Hubungan Tanpa Nabrak Restu Orang Tua

Lufaefi | 20 Oktober 2026, 05:30 WIB
Seni Islami Mengatur Prioritas Hubungan Tanpa Nabrak Restu Orang Tua
Seni Menjaga Hubungan Tanpa Menabrak Restu Ortu - Istimewa

AKURAT.CO Di usia muda, urusan hubungan sering kali terasa seperti berada di antara dua dunia. Di satu sisi ada keinginan untuk membangun hubungan dengan seseorang yang dianggap cocok. Di sisi lain ada orang tua yang memiliki harapan, kekhawatiran, dan pertimbangan sendiri.

Tidak sedikit hubungan yang akhirnya menghadapi persoalan bukan karena kedua orang yang menjalaninya tidak saling menyukai, tetapi karena komunikasi dengan keluarga tidak pernah benar-benar dibangun.

Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mengabaikan perasaan. Namun, Islam juga tidak membenarkan seseorang menjadikan perasaan sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan. Dalam urusan pasangan hidup, ada nilai agama, akhlak, tanggung jawab, keluarga, dan masa depan yang perlu dipertimbangkan bersama.

Al-Qur’an mengingatkan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Baca Juga: Sering Ghosting atau Di-Ghosting? Begini Cara Menjaga Hubungan yang Sehat dan Beradab dalam Islam

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan dengan orang tua memiliki posisi penting dalam kehidupan seorang Muslim. Karena itu, ketika seseorang mulai serius dengan sebuah hubungan, langkah pertama bukan sekadar bertanya, “Apakah dia membuat saya bahagia?” tetapi juga, “Apakah hubungan ini membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan?”

Di sinilah seni mengatur prioritas menjadi penting.

Hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang menjauh dari orang tua, apalagi menyembunyikan berbagai hal penting dari keluarga. Ketika hubungan mulai mengarah kepada pernikahan, komunikasi dengan orang tua justru perlu semakin terbuka. Bukan berarti setiap keputusan pribadi harus sepenuhnya ditentukan oleh orang tua, tetapi pendapat mereka layak didengar dan dipertimbangkan dengan serius.

Islam juga mengajarkan bahwa pasangan sebaiknya dinilai berdasarkan agama dan akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” (HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut memberikan ukuran yang lebih substantif daripada sekadar perasaan. Penampilan, popularitas, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau banyaknya pengikut di media sosial mungkin menjadi pertimbangan manusia, tetapi agama dan akhlak tetap menjadi fondasi yang sangat penting.

Lalu bagaimana jika orang tua tidak menyetujui hubungan tersebut?

Tidak perlu langsung menganggap orang tua sebagai penghalang cinta. Bisa jadi mereka melihat sesuatu yang belum terlihat oleh anaknya. Karena itu, dengarkan alasan mereka. Apakah keberatan tersebut berkaitan dengan akhlak, tanggung jawab, kesiapan menikah, perilaku calon pasangan, atau sekadar perbedaan latar belakang?

Jika alasannya masuk akal, jangan buru-buru menolaknya hanya karena sedang jatuh cinta. Sebaliknya, jika terdapat alasan yang kurang tepat atau didasarkan pada prasangka, persoalan tersebut dapat dibicarakan secara perlahan dengan komunikasi yang santun.

Yang perlu dihindari adalah hubungan yang memaksa seseorang memilih secara ekstrem: “Kalau kamu mencintaiku, tinggalkan keluargamu.” Kalimat seperti ini seharusnya menjadi tanda untuk berhenti sejenak dan berpikir. Hubungan yang baik semestinya tidak mengajarkan seseorang membenci orang tua demi mempertahankan pasangan.

Begitu pula sebaliknya, orang tua idealnya tidak menjadikan restu sebagai alat untuk mengendalikan seluruh pilihan hidup anak. Restu seharusnya menjadi ruang dialog, bukan sekadar ultimatum. Anak perlu menghormati orang tua, sementara orang tua juga perlu memahami bahwa anak memiliki kehidupan dan tanggung jawab masa depannya sendiri.

Dalam Islam, hubungan yang menuju pernikahan bukan hanya persoalan “aku dan kamu”. Ada tanggung jawab yang lebih luas. Ada keluarga yang perlu dihormati, ada agama yang harus dijaga, dan ada masa depan yang harus dipikirkan.

Baca Juga: Self-Care Islami: Mengenal Konsep 'Me Time' yang Benar Menurut Al-Qur'an untuk Menjaga Kesehatan Mental

Karena itu, sebelum memperjuangkan hubungan, mungkin ada baiknya memperjuangkan komunikasi terlebih dahulu. Kenalkan pasangan kepada keluarga dengan cara yang baik, bicarakan niat secara terbuka, dengarkan keberatan orang tua, dan libatkan orang-orang yang dipercaya ketika diperlukan.

Cinta memang penting. Tetapi dalam Islam, cinta yang matang bukan sekadar mempertahankan seseorang dengan segala cara. Cinta yang matang adalah kemampuan memilih jalan yang baik tanpa kehilangan adab kepada orang tua.

Sebab, hubungan yang benar bukan hanya tentang menemukan seseorang yang kita cintai, tetapi juga tentang menemukan cara mencintainya tanpa membuat kita kehilangan nilai, keluarga, dan keberkahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi