Hukum Mengerjakan Skripsi dengan Bantuan AI dalam Pandangan Islam

AKURAT.CO Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara mahasiswa belajar dan mengerjakan tugas akademik. Dengan teknologi ini, mahasiswa dapat mencari ide penelitian, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, menerjemahkan teks, hingga berdiskusi mengenai metodologi penelitian.
Kehadiran AI kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah menggunakan AI untuk membantu mengerjakan skripsi diperbolehkan dalam Islam? Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari ada atau tidaknya penggunaan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan, sejauh mana perannya, dan apakah penggunaannya tetap menjaga kejujuran akademik.
Islam pada dasarnya tidak melarang manusia memanfaatkan teknologi untuk memperoleh kemudahan. Prinsip yang perlu dijaga adalah agar teknologi digunakan untuk tujuan yang baik dan tidak menjadi sarana penipuan atau tindakan yang merugikan orang lain.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan."
Baca Juga: Hukum Joki Tugas Skripsi dalam Pandangan Islami
Dalam konteks skripsi, AI dapat menjadi alat bantu untuk melakukan pekerjaan yang bersifat mendukung proses belajar. Misalnya, mahasiswa menggunakan AI untuk mencari alternatif kata, memperbaiki struktur kalimat, menerjemahkan abstrak, membuat pertanyaan penelitian, memberikan gambaran mengenai suatu konsep, atau membantu memahami teori yang masih sulit.
Penggunaan seperti itu pada dasarnya berbeda dengan menyerahkan seluruh proses penelitian kepada AI kemudian mengklaim hasilnya sebagai kemampuan pribadi. Perbedaan tersebut terletak pada posisi AI: apakah hanya menjadi alat bantu atau menggantikan tanggung jawab intelektual mahasiswa.
Kejujuran menjadi prinsip utama yang harus dijaga. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar."
Mahasiswa tetap harus memahami penelitian yang ditulisnya. Ia harus mampu menjelaskan alasan memilih topik, merumuskan masalah, menentukan metode, membaca sumber, menganalisis data, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan penelitian.
Karena itu, menggunakan AI untuk membantu mencari ide tidak sama dengan meminta AI mengerjakan seluruh skripsi kemudian mahasiswa hanya menyalin hasilnya. Begitu pula menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa berbeda dengan meminta AI menciptakan seluruh penelitian tanpa proses verifikasi dan pemahaman dari mahasiswa.
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kebenaran informasi. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi mahasiswa tetap harus memeriksa sumber dan memastikan informasi yang digunakan benar. Dalam penelitian akademik, setiap teori, data, kutipan, dan referensi harus dapat ditelusuri kepada sumber yang sebenarnya.
Islam sendiri mengajarkan pentingnya melakukan pemeriksaan terhadap informasi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya."
Prinsip tabayyun tersebut sangat relevan dalam penggunaan AI. Mahasiswa tidak boleh menerima begitu saja jawaban yang diberikan AI, terutama ketika menyangkut fakta ilmiah, kutipan ayat, hadis, pendapat ulama, teori akademik, maupun daftar pustaka.
AI juga tidak boleh digunakan untuk melakukan plagiarisme. Mahasiswa tetap harus menghormati karya intelektual orang lain dan mencantumkan sumber yang digunakan. Jika AI digunakan sesuai aturan perguruan tinggi, mahasiswa juga perlu mengikuti ketentuan mengenai transparansi penggunaan AI dalam karya akademik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 3Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 6Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 8Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver
- 10Presiden Prabowo Minta Perekrutan TNI-Polri Tidak Melulu Lihat Fisik, Boleh Berkacamata Asal Pintar




