Kenapa Susah Berhenti Scroll Berita Buruk? Kenali Kebiasaan Doomscrolling

AKURAT.CO Pernah berniat hanya melihat satu berita, tetapi akhirnya terus menggulir layar untuk mencari kabar terbaru? Kebiasaan terus membaca atau melihat informasi negatif seperti bencana, konflik, kriminalitas, hingga kabar buruk lainnya dikenal dengan istilah doomscrolling.
Doomscrolling menjadi kebiasaan yang semakin mudah dilakukan ketika sebagian besar informasi tersedia melalui media sosial dan platform digital. Seseorang bisa berpindah dari satu berita ke berita lain hanya dalam hitungan detik tanpa benar-benar menyadari berapa lama waktu yang sudah dihabiskan.
Lantas, kenapa susah berhenti scroll berita buruk? Sejumlah penelitian menemukan bahwa kebiasaan tersebut berkaitan dengan berbagai faktor psikologis, termasuk rasa takut ketinggalan informasi atau fear of missing out (FoMO), penggunaan media sosial yang bermasalah, serta tekanan psikologis.
Baca Juga: Apa Itu Tone Deaf? Ini Arti, Contoh, dan Cara Menghindarinya di Media Sosial
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama, meskipun informasi tersebut justru dapat menimbulkan rasa cemas, takut, atau tertekan.
Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang terus menggulir layar untuk mencari kabar terbaru, terutama ketika sedang terjadi peristiwa besar seperti bencana alam, konflik, wabah penyakit, atau krisis sosial.
Berbeda dengan membaca berita untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, doomscrolling biasanya sulit dihentikan. Seseorang mungkin merasa sudah cukup membaca, tetapi tetap kembali membuka media sosial atau situs berita karena ingin mengetahui perkembangan terbaru.
Kenapa Susah Berhenti Scroll Berita Buruk?
Ada beberapa alasan yang membuat doomscrolling sulit dihentikan.
1. Ingin terus mendapatkan informasi terbaru
Saat terjadi peristiwa besar, informasi dapat berubah dalam hitungan menit. Kondisi tersebut membuat seseorang merasa perlu terus mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal.
Perasaan takut melewatkan informasi atau fear of missing out (FoMO) menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan doomscrolling.
Penelitian Satici, Tekin, Deniz, dan Satici yang diterbitkan dalam jurnal Applied Research in Quality of Life menemukan bahwa doomscrolling memiliki hubungan dengan FoMO, penggunaan media sosial yang bermasalah, serta beberapa karakteristik penggunaan media sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







