Akurat Logo

Gandeng YAICI di Cilacap, PP Muslimat NU Tegaskan Edukasi Bahaya Kental Manis Harus Berkelanjutan

Nuzulul Karamah | 21 September 2026, 14:47 WIB
Gandeng YAICI di Cilacap, PP Muslimat NU Tegaskan Edukasi Bahaya Kental Manis Harus Berkelanjutan
Gandeng YAICI di Cilacap, PP Muslimat NU Tegaskan Edukasi Bahaya Kental Manis Harus Berkelanjutan. - Cr: Istimewa

AKURAT.CO Kesalahan persepsi masyarakat mengenai kental manis masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan.

Menyikapi hal tersebut, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menggelar sosialisasi literasi gizi bagi para kader di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2026).

​Langkah kolaboratif ini bertujuan memperkuat pemahaman bahwa kental manis bukanlah pengganti susu asupan utama bagi anak dan balita.

Baca Juga: Perbedaan Susu Kental Manis dan Susu Evaporasi, Jangan Sampai Salah Pilih untuk Minuman atau Masakan

Para kader yang hadir dibekali informasi gizi akurat agar dapat menjadi penggerak perubahan (agent of change) di lingkungan masing-masing.

​Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, menekankan pentingnya peran strategis kader yang sebagian besar merupakan tokoh agama lokal dalam menyebarkan pemahaman ini.

​"Kader muslimat NU banyak merupakan ustazah, nyai dan mempunyai banyak jemaah sehingga bisa menyebarkan edukasi kepada sekitarnya. Karena konsumsi kental manis secara berlebih berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan," ungkap Erna.

​Tingginya angka kekeliruan masyarakat terkait kental manis juga diakui oleh pihak pemerintah daerah setempat.

Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, Drs. Budi Santosa, M.Si., menyebutkan masih banyak warga yang menganggap kental manis sejajar dengan susu pertumbuhan maupun ASI.

​"Memang ada masyarakat yang masih belum paham betul terkait dengan kental manis ini seperti apa sebenarnya. Apakah kental manis sama dengan susu formula dan ASI. Perlu ada kegiatan-kegiatan yang memang harus kita push betul," ucap Budi.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Perbedaan Susu Evaporasi dan Kental Manis yang Perlu Diketahui

​Ia juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif gabungan Muslimat NU dan YAICI yang dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menangani persoalan gizi dan pencegahan stunting.

​"Apa yang sedang dilakukan oleh Muslimat NU dan YAICI ini sangat bagus dan perlu diperkuat," ungkap Budi.

​Berdasarkan penelitian terbaru dari Universitas Islam Bandung (Unisba), sebanyak 66,7 persen masyarakat di Indonesia masih menganggap kental manis sebagai susu. Padahal, dari sisi kandungan gizi, produk ini memiliki kadar gula yang terbilang sangat tinggi.

​Merujuk pada data Singapore Food Database, setiap 100 ml kental manis mengandung sekitar 50 gram gula. Hal ini berarti porsi 30 ml kental manis menyumbang lebih dari 15 gram gula.

Angka tersebut sudah mendekati batas maksimal asupan gula harian anak usia 2–6 tahun yang direkomendasikan World Health Organization (WHO), yakni tidak lebih dari 19 gram per hari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.