AS Melatih Tentara untuk Menggali Kuburan Massal, Pertama Sejak Perang Korea 1952-1953

AKURAT.CO Angkatan Darat AS melatih para prajurit untuk menggali kuburan massal bagi tentara yang gugur dalam pertempuran. Pelatihan ini adalah persiapan menghadapi kemungkinan jatuhnya korban dalam jumlah besar pada konflik di masa depan.
Pelatihan ini juga disebut sebagai sebuah langkah yang baru pertama kali dilakukan sejak Perang Korea (1950–1953).
Laporan ini muncul di tengah konflik yang melibatkan Iran, yang juga memicu pertanyaan mengenai jumlah korban di kalangan personel militer AS. Bulan lalu, The Washington Post melaporkan bahwa setidaknya 22 personel militer AS telah meninggal dunia—empat orang lebih banyak daripada jumlah yang tercatat dalam basis data publik Pentagon.
Surat kabar tersebut menyatakan bahwa beberapa kematian tersebut tidak terkait langsung dengan konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, melainkan melibatkan personel AS yang ditempatkan di Timur Tengah di tengah permusuhan yang sedang berlangsung. Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menepis laporan tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan mutlak".
Sementara itu, Newsweek melaporkan pada hari Kamis bahwa latihan yang diberi nama "Operation Dragon Covenant Phase II" tersebut telah dimulai bulan lalu di Fort Bragg, North Carolina. Latihan ini melibatkan prajurit dari 3rd Corps Sustainment Command dan 20th Engineer Brigade, serta rohaniwan militer dan personel pendukung keagamaan lainnya.
Dengan menggunakan buldoser, ekskavator, dan alat berat lainnya, mereka berlatih menyiapkan lokasi pemakaman sementara serta menangani jenazah tentara yang gugur dalam pertempuran berskala besar.
Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Darat AS menyebutkan bahwa mereka tidak perlu melakukan pemakaman massal sementara dalam skala seperti ini sejak Perang Korea—konflik yang mengakibatkan 36.515 personel AS gugur atau hilang, dan 7.245 lainnya ditawan.
Menurut laporan Newsweek yang mengutip pernyataan tersebut, selama konflik di Irak dan Afghanistan dalam 25 tahun terakhir, jenazah personel Amerika yang gugur saat bertugas dapat segera dipulangkan ke AS, sehingga tidak perlu mendirikan lokasi pemakaman sementara yang besar.
Latihan yang kembali diadakan ini bertujuan untuk mempersiapkan militer menghadapi situasi di mana jumlah korban sangat tinggi, sehingga tim mungkin tidak dapat memakamkan setiap prajurit secara terpisah atau melaksanakan upacara keagamaan secara individual, tambah laporan tersebut.
Operasi tempur pun mungkin tetap berlangsung bahkan saat tim berupaya mengevakuasi dan mengawetkan jenazah para prajurit. Berdasarkan ketentuan standar Angkatan Darat, lokasi pemakaman sementara terdiri dari lima parit dengan kapasitas hingga 100 jenazah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah






