Pemilu Israel Buntu, Netanyahu dan Oposisi Gagal Raih Mayoritas, Ini 4 Skenario Politiknya

AKURAT.CO Hasil sementara pemungutan suara Pemilu Israel menunjukkan kedua pihak yang bersaing sama-sama belum memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Situasi ini membuat masa depan pemerintahan Israel bergantung pada negosiasi koalisi dan kemungkinan perubahan sikap sejumlah partai.
Hingga Rabu siang, sekitar 85 persen suara telah dihitung. Blok kanan dan kelompok religius pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun koalisi oposisi yang berporos pada Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot belum mencapai 61 kursi, ambang batas mayoritas di Knesset yang memiliki 120 anggota parlemen.
Kebuntuan pemilu Israel semakin rumit karena sejumlah partai sebelumnya menolak bekerja sama dengan lawan politik mereka, baik karena perbedaan ideologi maupun persoalan pribadi. Jika tidak ada pihak yang bersedia mengubah sikap, Israel berpotensi menggelar pemilu ulang, sebagaimana pernah terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir.
Ada empat skenario utama yang dapat menentukan arah politik Israel setelah pemilu, mulai dari pembentukan pemerintahan persatuan nasional hingga pemungutan suara ulang.
1. Netanyahu dan Eisenkot Bentuk Pemerintahan Persatuan Nasional
Salah satu kemungkinan untuk mengakhiri kebuntuan adalah pembentukan pemerintahan persatuan nasional yang melibatkan Partai Likud pimpinan Netanyahu dan Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot.
Namun, skenario ini menghadapi hambatan politik yang besar. Eisenkot mengikuti pemilu dengan janji menggulingkan Netanyahu dari kekuasaan. Mantan kepala staf militer Israel itu juga kembali mendesak Netanyahu mundur dari kehidupan politik karena menilai kepercayaan publik terhadap sang perdana menteri telah runtuh.
Sebaliknya, Netanyahu masih menunjukkan kedekatan dengan sekutu tradisionalnya dari kelompok kanan dan ultra-Ortodoks. Dalam pernyataan setelah pemilu di markas Likud, ia menyerukan pembentukan pemerintahan sayap kanan yang kuat.
Untuk menarik dukungan kelompok moderat, Netanyahu kemungkinan harus memutus hubungan dengan sejumlah sekutu dari kelompok kanan ekstrem dan ultra-Ortodoks. Langkah tersebut berisiko menghilangkan dukungan politik yang selama ini menopang kekuasaannya.
Perkembangan geopolitik juga berpotensi mengubah perhitungan kedua kubu. Sebelum pemilu, sejumlah media Israel dan Amerika Serikat melaporkan adanya pembahasan Netanyahu dengan Washington mengenai kemungkinan serangan terhadap sasaran di Iran.
Jika konflik regional meluas, tekanan untuk membentuk pemerintahan darurat nasional bisa meningkat. Meski demikian, pemerintahan persatuan tetap bergantung pada kesediaan kedua pemimpin mengesampingkan persaingan politik mereka.
Oposisi Israel Gandeng Partai Arab
Skenario kedua adalah pembentukan koalisi oposisi dengan dukungan partai-partai yang didominasi warga Arab Israel. Berdasarkan proyeksi sementara, jalur ini menjadi salah satu pilihan untuk mendekati ambang mayoritas parlemen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 8Prediksi Sassuolo vs Lazio 28 Oktober 2026: Jay Idzes Absen, Biancocelesti Diunggulkan
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok







