Malaysia Akan Perluas Larangan Aplikasi Navigasi buatan Israel

AKURAT.CO Pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan untuk memperluas larangan penggunaan aplikasi navigasi asal Israel, Waze, bagi pegawai negeri sipil (PNS) dengan alasan keamanan nasional. Di saat yang sama, muncul kontroversi terkait kapabilitas teknis aplikasi buatan dalam negeri yang diusulkan sebagai pengganti, serta transparansi dalam proses pemilihan kontraktor untuk proyek tersebut.
Muncul keraguan mengenai keandalan aplikasi navigasi lokal ini karena tingkat kecanggihan teknisnya yang relatif terbatas. Selain itu, terdapat pula pertanyaan seputar transparansi proses pemilihan pihak yang mengembangkan aplikasi pengganti tersebut.
Menurut laporan media lokal Malay Mail pada 25 Oktober, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa pemerintah mungkin akan memperluas pembatasan penggunaan Waze. Saat ini, larangan tersebut hanya berlaku bagi PNS yang sedang menjalankan tugas resmi, namun pemerintah mempertimbangkan untuk memperluasnya hingga mencakup masyarakat umum.
Pada 21 Oktober, pemerintah Malaysia mengumumkan larangan penggunaan Waze bagi PNS, dengan alasan perlunya melindungi informasi pemerintah serta data pribadi pengguna dari potensi penyalahgunaan oleh pihak Israel.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat Malaysia untuk berhenti menggunakan Waze dan beralih ke aplikasi buatan dalam negeri, seperti TuJu.
Anwar mengungkapkan kekhawatirannya karena Waze berbasis di Israel dan tunduk pada hukum negara tersebut.
"Pemerintah telah meninjau keterkaitan aplikasi ini dengan Israel serta hukum yang mengatur ketentuan penggunaannya." Ia menambahkan, "Kami khawatir informasi pemerintah dan data pribadi pengguna dapat terekspos kepada pihak luar," katanya.
Meski demikian, belum ada bukti yang dipublikasikan mengenai apakah informasi sensitif pemerintah Malaysia benar-benar telah bocor ke Israel melalui Waze.
Sejak pecahnya perang Israel-Hamas, Malaysia—negara dengan mayoritas penduduk Muslim—telah melontarkan kritik keras terhadap Israel. Pemerintah Malaysia berpendapat bahwa, mengingat situasi diplomatik dan keamanan saat ini, negara perlu mengurangi ketergantungan pada teknologi asing serta memperkuat kapabilitas digital dalam negeri.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 2Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 3Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian







