Generasi Muda India yang Marah Turun ke Jalan untuk menantang Modi

AKURAT.CO Gelombang demonstrasi anak muda di India memanas setelah pemerintah melakukan penertiban daftar pemilih yang telah menghapus lebih dari 130 juta nama sejak tahun lalu. Kebijakan yang menuai kontroversi ini memicu protes di New Delhi karena dinilai berpotensi menghilangkan hak pilih jutaan warga dan menguntungkan partai Perdana Menteri Narendra Modi.
Aksi demonstrasi yang dipimpin gerakan pemuda berjuluk “Cockroach” itu diwarnai tindakan keras aparat kepolisian. Pada Sabtu, polisi memasang barikade di sejumlah ruas jalan, memukul sebagian demonstran, menyeret peserta aksi ke dalam bus, dan membubarkan kerumunan. Sejumlah video yang merekam tindakan aparat tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.
Namun, tindakan aparat tidak menyurutkan semangat para demonstran. Kashish Rawat, mahasiswa ekonomi berusia 22 tahun, tetap bertahan di jalanan hingga sore hari untuk menyuarakan penolakannya terhadap kebijakan peninjauan daftar pemilih. Ia bahkan pergi ke ibu kota tanpa memberi tahu orang tuanya.
“Kami tidak akan pergi ke mana-mana. Kami akan kembali lagi dan membuat suara kami didengar,” kata Rawat.
Penghapusan 130 Juta Nama Pemilih Picu Protes
Demonstrasi yang digerakkan kelompok pemuda “Cockroach” semakin intensif pada awal Oktober 2026. Mereka memprotes proses peninjauan daftar pemilih yang telah menghapus lebih dari 130 juta nama sejak tahun lalu.
Para pengkritik menilai kebijakan tersebut bermuatan politik dan berpotensi mencabut hak pilih jutaan warga lainnya. Mereka juga mendesak Ketua Komisi Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar, mengundurkan diri.
Sebaliknya, Komisi Pemilihan Umum India menyatakan peninjauan daftar pemilih diperlukan untuk menghapus data ganda serta nama orang yang tidak memenuhi syarat sebagai pemilih.
Perdebatan ini menyentuh salah satu fondasi demokrasi India, yakni hak warga negara untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. Persoalan tersebut sekaligus menguji kemampuan generasi muda mengubah kekecewaan terhadap pemerintah menjadi gerakan politik yang berkelanjutan.
Modi belum memberikan komentar terbuka mengenai demonstrasi tersebut. Sejumlah tokoh dari partainya justru menyebut para demonstran sebagai kelompok anarkis dan menuding mereka mendapat dukungan kekuatan asing, meskipun tidak menyertakan bukti atas tuduhan tersebut.
Rawat menilai masyarakat tidak seharusnya takut mengkritik pemimpin yang dipilih melalui pemilu.
“Saya tidak melihat dia sebagai sosok mahakuasa. Saya melihatnya sebagai seseorang yang kami pilih. Jadi, saya tidak mengerti mengapa kami harus takut mempertanyakan orang itu,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi



