Deepfake Porno Hancurkan Hidup Wanita dan Perparah Konflik Gender di Korea Selatan

AKURAT.CO Di Korea Selatan, maraknya penyebaran video deepfake eksplisit tanpa izin telah menghancurkan kehidupan banyak wanita dan memperburuk ketegangan gender di masyarakat.
Seorang wanita berusia 30 tahun masih mengalami trauma berat setelah menjadi korban gambar deepfake yang menggambarkannya telanjang. Hingga kini, ia masih dalam perawatan karena gangguan stres pasca-trauma.
Fenomena deepfake ini semakin mencemaskan dengan banyaknya korban yang berbicara mengenai pengalaman serupa. Korea Selatan kini menghadapi gelombang besar video dan gambar deepfake yang semakin mudah diakses dan dibuat.
Menanggapi masalah ini, pemerintah Korea Selatan baru-baru ini memperketat undang-undang yang mengkriminalisasi kepemilikan dan konsumsi konten deepfake porno.
Sebagian besar pelaku deepfake di Korea Selatan adalah remaja laki-laki, yang seringkali menargetkan teman, kerabat, atau kenalan wanita sebagai bahan lelucon, eksperimen, atau karena misogini.
Serangan ini tak hanya berdampak pada para korban, tetapi juga memicu perdebatan serius terkait pendidikan dan program sekolah yang dinilai kurang memadai.
Baca Juga: Datang Lebih Awal ke Piala Dunia, Veddriq Leonardo dan Tim Latihan Bersama Tim Korea Selatan
Kasus ini menarik perhatian publik setelah daftar sekolah yang diisi oleh korban deepfake tersebar secara online pada Agustus lalu.
Ribuan wanita muda langsung bertindak untuk menghapus konten pribadi mereka dari media sosial. Banyak dari mereka juga turun ke jalan menuntut tindakan tegas terhadap kejahatan digital ini.
"Remaja (anak perempuan) pasti merasa tidak nyaman tentang apakah teman sekelas laki-laki mereka baik-baik saja. Saling percaya mereka telah benar-benar hancur," ujar Shin Kyung-ah, seorang profesor sosiologi di Universitas Hallym Korea Selatan, dikutip dari Apnews.com, Minggu (6/10/2024).
Laporan dari lembaga keamanan siber menyebut Korea Selatan sebagai negara yang paling terdampak oleh pornografi deepfake di dunia, dengan lebih dari setengah korban deepfake adalah aktris dan penyanyi Korea.
Pengamat menyatakan bahwa tingginya kasus ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penggunaan ponsel pintar yang intensif serta lemahnya pendidikan mengenai seks dan hak asasi manusia.
Polisi telah menangkap ratusan orang terkait kasus deepfake, mayoritas di antaranya adalah remaja. Namun, para ahli meyakini bahwa skala sebenarnya jauh lebih besar.
Masalah ini telah menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas terkait diskriminasi gender di Korea Selatan, di mana ketidaksetaraan gender di tempat kerja dan beban sosial lainnya terus menjadi isu yang memecah belah masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 2Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 3Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 4Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 5Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 6Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 7Blue Bird Cetak Laba Rp474 Miliar, Salah Satunya Ditopang oleh Keuntungan Penjualan Armada yang Melonjak
- 8Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini: Barcelona vs Aston Villa, MU vs AS Roma
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








