Akurat Logo

Doa dan Sikap Terbaik Seorang Muslim Menghadapi Ujian Finansial

Lufaefi | 26 Oktober 2026, 08:30 WIB
Doa dan Sikap Terbaik Seorang Muslim Menghadapi Ujian Finansial
Doa Saat Menghadapi Ujian Finansial - Dok. Istimewa

AKURAT.CO Masalah keuangan bisa datang kepada siapa saja. Pendapatan yang menurun, kehilangan pekerjaan, usaha yang belum menghasilkan, kebutuhan keluarga yang meningkat, hingga utang yang menumpuk sering kali membuat seseorang merasa berada di titik paling berat dalam hidupnya.

Dalam Islam, kondisi semacam itu tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan materi. Kesulitan finansial juga dapat menjadi ujian yang menguji kesabaran, ikhtiar, kejujuran, sekaligus keteguhan seseorang dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk mencari jalan keluar secara rasional, tetapi juga menjaga sikap spiritual ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi berbagai bentuk ujian dalam kehidupannya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya harta merupakan salah satu bentuk ujian yang mungkin dialami manusia. Namun, ujian tidak berarti seseorang harus berhenti berusaha.

Justru, Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan ikhtiar.

Pertama, tetap berusaha dan tidak menyerah

Kesulitan ekonomi tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Islam mendorong manusia untuk bekerja, berusaha dan mencari rezeki melalui jalan yang halal.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu'ah: 10).

Baca Juga: Etika Lingkungan dalam Al-Qur'an: Solusi Islami Terhadap Kerusakan Alam Akibat Ulah Manusia

Pesannya cukup jelas: ibadah tidak menjadi alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Setelah menunaikan kewajiban kepada Allah, manusia diperintahkan kembali menjalankan aktivitas kehidupan dan mencari karunia-Nya.

Dalam konteks finansial, ikhtiar dapat berupa mencari pekerjaan, mengembangkan keterampilan, memperbaiki pengelolaan keuangan, mengurangi pengeluaran yang tidak penting, maupun membangun usaha yang halal.

Kedua, memperbanyak istighfar dan doa

Ketika kondisi ekonomi sedang sulit, doa menjadi salah satu cara seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.” (HR. Abu Dawud).

Doa ini relevan bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan finansial. Bukan hanya meminta terbebas dari utang, tetapi juga memohon perlindungan dari berbagai kondisi psikologis yang dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bertindak.

Ketiga, menjaga diri dari jalan rezeki yang haram

Tekanan ekonomi terkadang membuat seseorang tergoda mengambil jalan pintas. Penipuan, korupsi, manipulasi, riba, perjudian, atau mengambil hak orang lain bisa terlihat sebagai solusi cepat ketika kebutuhan mendesak.

Padahal, Islam menempatkan kehalalan sumber harta sebagai prinsip penting.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188).

Artinya, kesulitan finansial tidak boleh menjadi pembenaran untuk memperoleh kekayaan melalui cara yang dilarang.

Rezeki yang sedikit tetapi halal tetap memiliki nilai yang lebih baik daripada harta berlimpah yang diperoleh dengan cara yang merugikan orang lain.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi