Akurat Logo

Totalitas dalam Bekerja: Meneladani Konsep Khairunnas dalam Menjalankan Amanah Profesi

Lufaefi | 26 Oktober 2026, 10:00 WIB
Totalitas dalam Bekerja: Meneladani Konsep Khairunnas dalam Menjalankan Amanah Profesi
Foto Ilustrasi - Meja Kerja

AKURAT.CO Bekerja bukan sekadar aktivitas untuk mendapatkan penghasilan. Bagi seorang Muslim, pekerjaan juga dapat menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, serta tanggung jawab yang sungguh-sungguh.

Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif, profesionalitas sering diukur melalui target, produktivitas, prestasi, dan pencapaian karier. Namun, Islam menawarkan ukuran yang lebih luas. Seorang Muslim tidak hanya dituntut menjadi pekerja yang sukses, tetapi juga manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Prinsip tersebut dapat dikaitkan dengan konsep khairunnas, yakni manusia yang paling baik karena memberikan manfaat bagi sesamanya. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Hadis tersebut memberikan perspektif bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi posisi yang dimilikinya, tetapi juga oleh seberapa besar manfaat yang diberikan melalui peran yang dijalankannya.

Seorang guru, misalnya, tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan jam mengajar. Ia memiliki amanah untuk membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan membentuk karakter. Seorang dokter bukan hanya menjalankan profesi, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Begitu pula pedagang, pegawai, jurnalis, pengusaha, hingga pekerja lapangan memiliki ruang masing-masing untuk menghadirkan kemanfaatan.

Karena itu, totalitas dalam bekerja tidak selalu berarti bekerja tanpa mengenal waktu. Totalitas lebih tepat dimaknai sebagai kesungguhan dalam menunaikan tanggung jawab sesuai kapasitas dan posisi masing-masing.

Al-Qur'an memberikan dorongan agar manusia bersungguh-sungguh dalam menjalankan aktivitasnya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’” (QS. At-Taubah: 105).

Baca Juga: Penghafal Al-Quran Bisa Masuk Sekolah Maung 2026, Cek Syarat dan Cara Daftar!

Ayat tersebut menempatkan amal atau pekerjaan sebagai sesuatu yang memiliki nilai moral. Apa yang dilakukan manusia tidak berhenti pada penilaian atasan, pelanggan, kolega, atau masyarakat. Dalam perspektif iman, pekerjaan juga berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah.

Kesadaran semacam ini penting agar seseorang tidak hanya bekerja maksimal ketika diawasi. Profesionalitas seorang Muslim justru diuji ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Di sinilah amanah menjadi kata kunci.

Setiap profesi memiliki amanah yang berbeda. Seorang karyawan memiliki amanah terhadap pekerjaannya. Pemimpin memiliki amanah terhadap orang yang dipimpinnya. Pengusaha memiliki amanah terhadap konsumen dan pekerjanya. Sementara seorang profesional memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas keilmuan dan keahliannya.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis ini tidak hanya berbicara mengenai pemimpin dalam pengertian politik atau organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki ruang tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, bekerja secara asal-asalan bukan sekadar persoalan produktivitas. Jika pekerjaan tersebut menyangkut hak orang lain, kelalaian dapat berubah menjadi persoalan moral.

Bayangkan seorang pegawai yang sengaja menunda pekerjaan yang seharusnya segera diselesaikan, seorang tenaga profesional yang memberikan layanan di bawah standar, atau seseorang yang menerima gaji tetapi tidak menjalankan kewajibannya dengan baik. Secara administratif mungkin persoalannya terlihat sederhana. Namun dalam perspektif amanah, terdapat dimensi etis yang jauh lebih besar.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi