DPP GMNI Bongkar Dugaan Motif KKB Bunuh Warga Sipil di Papua

AKURAT.CO Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) mengecam pembunuhan terhadap Aris Seda, seorang pengemudi truk logistik di Papua yang dikenal dengan sapaan Bapak Tasya.
DPP GMNI menilai aksi tersebut tidak hanya menyasar warga sipil, tetapi juga berpotensi memperburuk situasi keamanan dan mengganggu aktivitas distribusi logistik di wilayah Papua.
Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik, Andreas Halomoan Silalahi, menduga serangan terhadap pekerja sipil tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memicu eskalasi di lapangan.
Menurut Andreas, kelompok bersenjata dapat memanfaatkan respons aparat setelah serangan terhadap warga sipil untuk membangun narasi tertentu di tingkat internasional.
“Gugurnya almarhum Bapak Aris Seda adalah eksekusi keji yang dirancang sebagai pancingan taktis. KKB sengaja membantai sopir logistik sipil untuk menebar ketakutan dan memprovokasi aparat keamanan negara bertindak keras di lapangan,” kata Andreas, Sabtu (19/9/2026).
Ia menilai, apabila terjadi benturan antara aparat dan kelompok bersenjata, situasi tersebut berpotensi digunakan untuk membangun narasi mengenai tindakan represif Indonesia di forum internasional.
“Ketika negara bereaksi, dampak benturan tersebut akan mereka komodifikasi di forum internasional seolah-olah Indonesia melakukan tindakan represif. Indonesia harus segera menyusun rencana strategis yang matang dan jangan sampai terjebak dalam perangkap propaganda separatis,” ujarnya.
Andreas mengaitkan situasi tersebut dengan konsep New Wars yang diperkenalkan Mary Kaldor.
Menurut dia, konflik modern tidak selalu berlangsung melalui pertempuran terbuka antarkekuatan bersenjata, tetapi dapat menyasar masyarakat sipil dan infrastruktur atau jalur yang memiliki nilai strategis.
Ia juga mengutip kajian Paul Collier dan Anke Hoeffler mengenai faktor ekonomi dalam konflik bersenjata.
Andreas menilai pola kekerasan dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi perlu mendapat perhatian karena dapat memperpanjang konflik di tingkat lokal.
“Pembunuhan terhadap almarhum Aris Seda merupakan manifestasi dari pola konflik yang menyasar warga sipil dan koridor logistik vital untuk menciptakan instabilitas,” katanya.
Lebih jauh, Andreas melihat dinamika konflik di Papua juga memiliki dimensi diplomasi internasional.
Ia mengaitkannya dengan konsep transnational insurgency yang dikembangkan Idean Salehyan, terutama mengenai peran dukungan eksternal dalam keberlangsungan kelompok pemberontak.
Menurutnya, respons negara terhadap aksi kekerasan harus dilakukan secara terukur agar tidak memberikan ruang bagi munculnya narasi yang dapat merugikan posisi Indonesia di forum internasional.
“KKB menjual darah rakyat sendiri demi suaka asing dan komoditas diplomasi di luar negeri. Ini adalah bagian dari perang hibrida yang sengaja dirancang untuk melemahkan posisi Indonesia di forum global,” ujar Andreas.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pemerintah perlu mengedepankan strategi yang terukur dan tidak semata-mata mengandalkan respons keamanan.
Baca Juga: Kedutaan Italia Nilai IDW 2026 di PIK2 Perkuat Hubungan Kreatif Indonesia dan Italia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana




