Membedah Secara Teknis Pergantian Pelatih Timnas Indonesia dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert

AKURAT.CO, Pengamat sepakbola, Arman Saputra, angkat suara mengenai pergantian pelatih di Timnas Indonesia. Dari Shin Tae-yong menjadi Pateick Kluivert.
Arman mengutip perkataan legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff. Legenda asal Belanda ini memang dikenal sebagai pengusung filosofi sepakbola indah.a
Dalam dalam pertandingan sepakbola, tidak hanya mesti menang tapi juga bermain baik. Baginya sepakbola mesti menghibur penonton.
Berbanding terbalik dengan Cruyff, di Italia kualitas permainan tidak terlalu penting. Sebab yang terpenting adalah hasil akhir. Menang tidak peduli bagaimana caranya. Mau bertahan total selama 90 menit pun dilakoni dan begitulah prinsip Italia.
Walau filosofinya berbeda, tapi ada satu benang merah antara filosofi sepakbola indah Cruyff maupun pragmatisme Italia. Benang merah itu adalah konsistensi pada taktik.
Hal inilah menjadi titik kritis bagi Arman yang patut dialamatkan pada Shin Tae-yong ong kala melatih skuat Garuda. Sepanjang empat tahun lebih menangani timnas Indonesia, komposisi taktik dan filosofi bermain tidak memiliki konsistensi yang jelas. Timnas tak punya karakter kuat dalam bermain.
"Tidak jelas apakah ingin bermain indah atau fokus pada hasil akhir. Inilah yang menyebabkan inkonsistensi hasil. Inkonsistensi hasil selaras dengan inkonsistensi susunan pemain," ucap Arman dalam keterangan resminya.
Arman mengambil contoh saat Timnas Indonesia melawan China di kualifikasi Piala Dunia 2026. Kala itu Shin Tae-yong memang banyak melakukan eksperimen taktik.
Lalu saat di Piala AFF 2024 lalu Shin Tae-yong juga tampak bereksperimen dengan menurunkan Pratama Arhan dan Asnawi pada dua sisi berbeda. Arhan yang biasa di kiri malah ditempatkan di sisi kanan. Sebaliknya Asnawi malah di kiri.
"Secara kualitatif kita bisa mencerna secara seksama bahwa permainan timnas jauh dari optimal. Timnas lebih sering bermain bertahan dan lebih mengandalkan serangan yang sporadis."
"Saat melawan Jepang dan Australia, kelemahan sistem bermain timnas terlihat begitu terlihat. Sehingga sepanjang 90 menit timnas hanya bisa bertahan dan tidak banyak mengancam," beber Arman.
Kini PSSI sudah menunjuk Patrick Kluivert sebagai suksesor Shin Tae-yong di Timnas Indonesia. Namun Arman menilai penunjukan Patrick Kluivert memang tak lantas menjamin terjawabnya persoalan timnas sepeninggal Shin Tae-yong.
"Akan tetapi pengalaman Kluivert menjadi asisten pelatih yang punya filosofi kuat seperti Louis van Gaal menjadi bekal berharga. Sebab kini yang dibutuhkan timnas Indonesia adalah stabilitas, taktik, komposisi, hingga kejelasan filosofi," tukas Arman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








