Dulu Harus Beli Piringan Hitam dan Kaset, Popularia PIK Ajak Pengunjung Bernostalgia

AKURAT.CO Mendengarkan lagu favorit saat ini cukup dilakukan melalui telepon genggam. Hanya dengan beberapa sentuhan, jutaan lagu dari berbagai negara dapat langsung dinikmati.
Namun, pengalaman tersebut sangat berbeda dengan kebiasaan masyarakat beberapa dekade lalu.
Sebelum era layanan musik digital, masyarakat harus mengandalkan piringan hitam, kaset, toko musik, hingga perangkat pemutar khusus untuk menikmati lagu kesukaan mereka.
Perjalanan panjang perubahan teknologi itulah yang menjadi salah satu daya tarik pameran Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia di Pantjoran PIK.
Pameran yang digelar Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) bersama Irama Nusantara tersebut menghadirkan berbagai arsip dan objek yang memperlihatkan perkembangan musik populer Indonesia dari masa ke masa.
Pengunjung dapat menelusuri bagaimana teknologi rekaman berkembang sejak era Hindia Belanda hingga memasuki masa ketika musik dapat diakses melalui platform digital.
Pada awal perkembangannya, piringan hitam menjadi salah satu media yang memungkinkan masyarakat menikmati rekaman musik di luar pertunjukan langsung.
Pameran Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia di Pantjoran PIK.
Kehadiran teknologi tersebut kemudian mendorong tumbuhnya usaha rekaman, toko musik, serta jaringan distribusi yang memperkenalkan karya para musisi kepada pendengar.
Perubahan terus berlangsung seiring berkembangnya industri musik dan hadirnya berbagai format rekaman baru.
Kaset menjadi salah satu media yang akrab dengan pengalaman mendengarkan musik pada masa sebelum layanan digital mendominasi kehidupan sehari-hari.
Bagi generasi yang pernah mengoleksi album fisik, perjalanan tersebut menghadirkan kenangan tentang kebiasaan memilih rekaman, mencari lagu favorit, dan mendengarkannya melalui perangkat pemutar musik.
Sementara bagi generasi muda, Popularia menjadi kesempatan untuk mengenal proses panjang yang memungkinkan musik berkembang menjadi bagian dari kehidupan modern.
Menariknya, pameran ini tidak hanya menampilkan koleksi untuk dilihat.
Pengunjung juga dapat memanfaatkan fasilitas Listening Booth untuk mendengarkan musik dari berbagai periode.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya






