Akurat Logo

Saham BUMN Mulai Unjuk Taring, Fundamental Kuat Jadi Penopang IHSG

Herry Supriyatna | 23 Oktober 2026, 12:54 WIB
Saham BUMN Mulai Unjuk Taring, Fundamental Kuat Jadi Penopang IHSG
Ilustrasi IHSG.

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 59,54 poin atau 1,12 persen ke level 5.387,91 pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

Di tengah dinamika pasar, saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) dinilai masih memiliki daya tarik berkat fundamental perusahaan yang dinilai kuat.

Pengamat pasar modal, Nefo Handojo, menilai, kondisi fundamental perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk emiten BUMN, masih menjadi salah satu penopang daya tarik pasar saham Indonesia.

Menurut Nefo, koreksi harga saham saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.

Ia menilai valuasi saham di pasar, termasuk saham BUMN, relatif murah dibandingkan kondisi sebelumnya.

"Secara umum valuasi saham memang murah dan begitu juga dengan saham-saham BUMN, jadi penurunan lebih karena faktor di luar fundamental saham di BEI yang menurut pandangan saya lebih wajar dengan indeks di atas 7.000," ujar Nefo di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Ia juga menyoroti ketidakpastian terkait keputusan MSCI yang masih menjadi salah satu faktor tekanan terhadap pasar saham.

Nefo berharap regulator dapat melakukan perbaikan untuk menjawab berbagai perhatian yang disampaikan MSCI.

Meski demikian, ia menilai fundamental perusahaan yang tetap kuat dapat membantu membatasi tekanan terhadap harga saham.

Menurutnya, valuasi yang menarik juga berpotensi mempertahankan minat investor di luar kelompok dana yang mengikuti ketentuan MSCI.

"Jadi selama fundamental perusahaan masih mendukung penurunan indeks akan terbatas, soal MSCI hanya akan berpengaruh untuk fund tertentu dan banyak fund di luar yang akan tetap membeli saham dengan valuasi menarik tanpa harus ikut aturan MSCI," katanya.

Optimisme terhadap peluang investasi di pasar saham Indonesia juga disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani.

Sebelumnya, Rosan menilai koreksi valuasi saham dapat menjadi kesempatan bagi Danantara untuk berinvestasi dengan orientasi jangka panjang.

Menurut Rosan, penurunan harga saham membuat valuasi sejumlah perusahaan, termasuk BUMN, menjadi lebih menarik untuk dipertimbangkan sebagai sasaran investasi.

"Kami melihat justru ini momen, kalau kita lihat valuasi dari perusahaan-perusahaan kita, termasuk BUMN itu valuasinya sangat boleh dikatakan rendah pada saat ini karena terjadinya koreksi, justru kami melihatnya ini sebagai suatu opportunity ke depannya," ujar Rosan dalam konferensi pers bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Rosan turut menyoroti sektor perbankan yang dinilainya memiliki fundamental kuat dan solid. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat valuasi sejumlah perusahaan perbankan menarik bagi investor.

"Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out," lanjutnya.

Baca Juga: IWIP Buka Program Magang Industri Nikel bagi Mahasiswa, 470 Peserta Telah Bergabung

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.