Populasi Domba Australia Terendah Dalam Satu Abad Terakhir, Harga Melonjak Capai Rekor Tertinggi

AKURAT.CO Harga daging domba di Australia terus melonjak hingga mencapai rekor tertinggi. Kenaikan ini dipicu oleh menyusutnya populasi domba ke level terendah dalam satu abad terakhir, sehingga pasokan daging di pasar semakin terbatas.
Menurut laporan Nine News Australia pada 22 Oktober 2026, harga daging domba di sejumlah supermarket besar meningkat sekitar 20–35 persen dibandingkan harga normal. Kenaikan tersebut terjadi ketika permintaan ekspor tetap tinggi, sementara peternak berupaya memulihkan jumlah ternak mereka.
Iga domba yang populer untuk dipanggang kini dijual seharga 45–53 dolar Australia per kilogram atau sekitar Rp486.000–Rp572.000. Sementara itu, potongan pinggang domba (loin chops) dibanderol 23–27 dolar Australia atau sekitar Rp248.000–Rp292.000 per kilogram. Adapun paha domba bertulang dijual seharga 16–22 dolar Australia atau sekitar Rp173.000–Rp238.000 per kilogram.
Perkiraan rupiah menggunakan kurs ilustratif Rp10.800 per dolar Australia.
Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal pada musim semi. Sebelumnya, iga domba umumnya dijual seharga 28–38 dolar Australia atau sekitar Rp302.000–Rp410.000 per kilogram, sedangkan potongan pinggang berkisar 15–19 dolar Australia atau sekitar Rp162.000–Rp205.000 per kilogram.
Populasi Domba Australia Terendah dalam 100 Tahun
Penurunan populasi domba menjadi penyebab utama lonjakan harga. Kekeringan berkepanjangan dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan selama beberapa tahun terakhir telah memukul sektor peternakan, terutama di wilayah Australia bagian selatan.
Stuart Bull, manajer informasi pasar di Meat & Livestock Australia (MLA), mengatakan populasi domba Australia kini berada pada tingkat terendah dalam 100 tahun terakhir. Jumlah domba yang dipotong sepanjang 2026 diperkirakan turun lebih dari 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Bull, peternak kini mengurangi penjualan domba betina produktif dan mempertahankan lebih banyak ternak untuk memulihkan populasi kawanan mereka. Strategi tersebut membuat pasokan daging semakin terbatas, meskipun pasar sedang memasuki puncak musim penjualan.
Tekanan pasokan juga diperparah oleh tingginya permintaan ekspor, terutama dari Amerika Serikat dan China. Persaingan antara pasar domestik dan ekspor turut mendorong kenaikan harga daging domba di Australia.
Pejabat MLA memperkirakan harga tinggi masih akan bertahan untuk beberapa waktu. Pemulihan populasi domba membutuhkan waktu, sementara pasokan daging domba di pasar global juga masih terbatas.
Peternak Tertekan Biaya Produksi
Di tengah kenaikan harga daging, peternak Australia belum tentu menikmati keuntungan yang lebih besar. Biaya produksi dan distribusi yang meningkat membuat margin usaha mereka tetap tertekan.
Justin Everett, pengelola peternakan domba Aintree Park di New South Wales, mengatakan biaya bahan bakar diesel untuk mengoperasikan traktor dan mengangkut ternak telah meningkat tajam. Harga pembelian domba untuk pengembangbiakan juga semakin mahal.
Everett mengungkapkan, peternak masih kesulitan memulihkan jumlah kawanan mereka setelah mengalami kerugian besar ketika harga domba di tingkat peternak anjlok dua tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pemulihan produksi berjalan lambat. Di satu sisi, peternak perlu mempertahankan ternak untuk meningkatkan populasi, tetapi di sisi lain mereka harus menanggung biaya operasional yang terus membengkak.
Harga Daging Sapi Australia Juga Tinggi
Tekanan harga tidak hanya terjadi pada daging domba. Harga daging sapi dan daging anak sapi di Australia juga mengalami kenaikan signifikan.
Menurut Biro Statistik Australia (ABS), harga eceran daging sapi dan daging anak sapi meningkat sekitar 13 persen dalam setahun terakhir.
Namun, penyebab kenaikan harga daging sapi berbeda dengan daging domba. Jika daging domba mahal karena penurunan populasi dan terbatasnya pasokan, harga daging sapi Australia tetap tinggi akibat meningkatnya permintaan dari pasar luar negeri, termasuk Amerika Serikat.
Situasi tersebut terjadi meskipun produksi daging sapi Australia saat ini berada pada tingkat yang mendekati rekor tertinggi.
Kenaikan harga kedua jenis daging ini menunjukkan bahwa konsumen Australia masih menghadapi tekanan biaya pangan. Sementara itu, pemulihan populasi domba dan penyesuaian pasokan diperkirakan membutuhkan waktu sebelum harga kembali lebih terjangkau.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya








