Langit Palangka Raya Berubah Oranye, Apa Penyebab dan Dampaknya bagi Kesehatan?

AKURAT.CO Inilah penyebab dan dampak langit Palangka Raya berubah oranye bagi kesehatan, yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Oktober 2026.
Fenomena ini tidak hanya mengubah penampilan langit, tetapi juga menjadi perhatian karena partikel asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan.
Lantas, apa penyebab langit Palangka Raya berubah oranye dan apa saja dampaknya bagi kesehatan? Simak penjelasan berikut.
Baca Juga: Kepala BNPB Kristomei Sianturi Prioritaskan Kolaborasi dan Respons Cepat Penanganan Bencana
Penyebab Langit Palangka Raya Berubah Oranye
1. Kebakaran Hutan dan Lahan
Salah satu penyebab utama langit Palangka Raya berubah menjadi oranye adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran ini menghasilkan asap tebal yang membawa jelaga dan partikel kecil ke udara.
Ketika asap menyebar dan menumpuk di atmosfer, langit menjadi berkabut dan mengalami perubahan warna. BPBD Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 887 kejadian karhutla sejak Juni hingga 13 Oktober 2026.
Total luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai sekitar 1.444 hektare. Banyaknya kejadian kebakaran tersebut turut memperburuk kondisi kabut asap di wilayah Palangka Raya.
2. Penumpukan Partikel Asap di Udara
Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai partikel kecil, salah satunya PM2.5, serta karbon hitam atau jelaga. Jika partikel tersebut menumpuk di udara dalam jumlah besar, cahaya matahari yang melewati atmosfer akan berinteraksi dengan partikel-partikel tersebut.
Akibatnya, warna cahaya yang terlihat dari permukaan bumi mengalami perubahan. Langit yang biasanya tampak biru bisa berubah menjadi kuning, oranye, atau kemerahan.
Perubahan ini terjadi karena partikel asap memengaruhi penyebaran dan penyerapan cahaya matahari di atmosfer. Selain mengubah warna langit, penumpukan partikel asap juga dapat menurunkan kualitas udara.
3. Cuaca Kering yang Memperparah Kebakaran
Kondisi cuaca yang kering dan kurangnya curah hujan dapat membuat hutan, semak, serta lahan gambut lebih mudah terbakar. Api yang muncul di lahan gambut juga dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit ditemukan dan dipadamkan.
Situasi ini dapat membuat kebakaran berlangsung lebih lama dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Menurut situs resmi Reuters, pada 15 Oktober 2026 bahwa kondisi El Niño turut memperburuk musim kebakaran di Indonesia dengan meningkatkan risiko kekeringan dan menunda datangnya hujan.
Jika kondisi kering terus berlangsung, kebakaran berpotensi meluas dan kabut asap dapat bertahan lebih lama. Akibatnya, kualitas udara semakin terganggu dan masyarakat berisiko mengalami masalah kesehatan akibat paparan asap.
Dampak Langit Oranye dan Kabut Asap bagi Kesehatan
1. Memicu Gangguan Pernapasan
Paparan asap karhutla dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Risiko gangguan tersebut dapat meningkat ketika seseorang menghirup asap dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu lama.
Partikel halus PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya memungkinkan partikel masuk hingga ke bagian dalam paru-paru. Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat perlu membatasi paparannya.
2. Memperburuk Asma dan Penyakit Paru-paru
Kabut asap dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan sehingga memperburuk gejala asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Gejala yang mungkin muncul meliputi napas berbunyi, dada terasa sesak, batuk berkepanjangan, dan kesulitan bernapas. Orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan perlu lebih berhati-hati serta mengikuti anjuran pengobatan dari tenaga medis.
3. Menyebabkan Iritasi Mata dan Tenggorokan
Paparan asap tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga dapat mengganggu mata, hidung, dan tenggorokan.
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah, perih, berair, hidung terasa tidak nyaman, serta tenggorokan kering atau sakit. Keluhan ini dapat semakin terasa ketika seseorang berada di luar ruangan dengan tingkat polusi tinggi.
4. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung
Partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat mencapai aliran darah. Paparan polusi partikel berkaitan dengan peradangan tubuh serta peningkatan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah.
Risiko ini perlu diperhatikan terutama oleh lansia dan orang yang memiliki penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular lainnya. Dampaknya bergantung pada konsentrasi polusi, lama paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.
5. Lebih Berisiko bagi Anak-anak, Lansia, dan Ibu Hamil
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih ketat saat kabut asap terjadi.
Pada anak-anak, paparan polusi dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan yang masih berkembang. Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis lebih rentan mengalami komplikasi akibat penurunan fungsi organ atau kondisi kesehatan yang sudah ada.
FAQ
1. Apa penyebab langit Palangka Raya berubah oranye?
Langit Palangka Raya berubah oranye akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Partikel asap memengaruhi penyebaran dan penyerapan cahaya matahari sehingga warna langit terlihat kuning, oranye, atau kemerahan.
2. Mengapa kebakaran hutan menyebabkan langit berwarna oranye?
Kebakaran menghasilkan asap, jelaga, dan partikel halus yang menyebar ke atmosfer. Partikel tersebut berinteraksi dengan cahaya matahari sehingga mengubah warna cahaya yang terlihat dari permukaan bumi.
3. Apa dampak kabut asap bagi kesehatan?
Kabut asap dapat menyebabkan batuk, iritasi mata dan tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk asma dan penyakit paru-paru. Paparan partikel halus juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan jantung.
4. Siapa yang paling berisiko terkena dampak kabut asap?
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru termasuk kelompok yang perlu lebih waspada terhadap paparan kabut asap.
5. Bagaimana cara melindungi diri dari kabut asap?
Masyarakat dapat membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat, menjaga kualitas udara di dalam rumah, dan memantau informasi kualitas udara dari instansi resmi.
Kesimpulan
Langit Palangka Raya yang berubah oranye pada Oktober 2026 berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Penumpukan partikel asap di atmosfer mengubah tampilan warna langit sekaligus berpotensi menurunkan kualitas udara.
Dampak kabut asap bagi kesehatan meliputi gangguan pernapasan, memburuknya asma, iritasi mata dan tenggorokan, serta peningkatan risiko gangguan jantung akibat paparan polusi partikel.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, dan mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T


