Pasar Properti 2026 Lebih Rasional, Skema Kreatif Jadi Kunci Jaga Daya Beli

AKURAT.CO Pasar properti Indonesia pada 2026 dinilai masih memiliki peluang tumbuh di tengah tekanan ekonomi global.
Namun, pertumbuhan sektor ini diprediksi tidak lagi didorong spekulasi, melainkan kebutuhan riil konsumen dengan pendekatan yang lebih rasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Property Outlook bertajuk “Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026” yang digelar dalam rangkaian ASG Expo 2026 di Main Atrium PIK Avenue, Jumat (24/4/2026).
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat.
Konsumsi rumah tangga dan investasi dinilai tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Prospek ekonomi domestik kita masih cukup kuat. Investasi dalam negeri juga masih menjadi motor penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, stabilitas inflasi menjadi faktor krusial dalam menjaga iklim investasi, termasuk sektor properti.
Kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga BBM bersubsidi dinilai mampu menjaga inflasi tetap terkendali, sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus.
Menurutnya, inflasi yang stabil akan membuka ruang bagi suku bunga tetap kompetitif, khususnya untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang selama ini menopang 70–80 persen pembiayaan properti residensial.
“Kalau inflasi terkendali, suku bunga tidak naik signifikan. Ini akan berdampak positif pada pembiayaan properti,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui tekanan terhadap kelas menengah masih menjadi tantangan, terutama pascapandemi COVID-19 yang mendorong sebagian masyarakat masuk ke sektor informal.
Baca Juga: MAX 2026 Resmi Dibuka, Dorong Ekonomi Biru dan Perkuat Masa Depan Wisata Bahari Indonesia
Namun, peningkatan investasi dinilai dapat membuka lapangan kerja baru dan secara bertahap memulihkan daya beli.
Senada, Pengamat Properti Anton Sitorus menilai pasar properti kini memasuki fase yang lebih sehat.
Menurutnya, pasar tidak lagi berada dalam kondisi booming, melainkan bergerak menuju pertumbuhan yang lebih struktural.
“Pasar properti saat ini lebih tenang, lebih rasional, dan didorong oleh kebutuhan end-user,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor industri menunjukkan performa positif, sementara apartemen masih bergerak lebih lambat. Sektor ritel juga mulai pulih seiring meningkatnya aktivitas masyarakat.
Anton menekankan pentingnya faktor infrastruktur dalam menentukan daya tarik proyek properti. Kawasan dengan konektivitas yang baik dinilai lebih cepat berkembang.
“Infrastruktur adalah silent multiplier. Konektivitas datang dulu, baru harga mengikuti,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan perilaku konsumen yang kini lebih selektif.
Faktor lokasi, konsep kawasan, reputasi pengembang, hingga kualitas produk menjadi pertimbangan utama dalam membeli properti.
“Sekarang bukan hanya soal timing, tapi juga seleksi. Konsumen jauh lebih kritis,” tambahnya.
Skema Kreatif Jadi Kunci
Di sisi lain, strategi pembiayaan menjadi faktor penting dalam menjaga minat beli.
Associate Director Bank Artha Graha Internasional, Andy Dharma, menilai skema pembayaran kreatif dapat menjadi solusi di tengah tekanan daya beli.
“Skema bunga rendah di awal bisa membantu konsumen masuk ke pasar. Tapi harus dipahami bahwa setelah masa promo, bunga akan kembali normal,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan yang matang, mengingat pembiayaan properti tidak hanya dipengaruhi bunga KPR, tetapi juga kenaikan biaya material dan pembangunan.
Menurutnya, tren pasar saat ini didominasi oleh pembeli dengan kebutuhan nyata, bukan spekulator jangka pendek.
“Sekarang lebih banyak real demand. Properti dibeli untuk dihuni atau investasi jangka panjang,” jelasnya.
Sementara itu, Director of Sales & Marketing PIK2, Lucia Aditjakra, menilai perlambatan pasar tidak berarti menurunnya kebutuhan hunian.
Ia menegaskan rumah tetap menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Baca Juga: Harga Emas Turun! Lakukan 5 Hal Ini untuk Amankan Portofolio Investasi Anda
“Hunian tetap dibutuhkan. Tantangannya adalah bagaimana menyesuaikan dengan kondisi daya beli saat ini,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya inovasi dalam skema pembayaran, seperti cicilan fleksibel, kerja sama dengan perbankan, hingga konsep sewa untuk memiliki.
“Kami tidak hanya menawarkan diskon, tapi juga skema pembayaran yang lebih adaptif dan membantu konsumen,” katanya.
Lucia juga menyoroti pentingnya value engineering, di mana pengembang harus tetap menjaga kualitas hunian meski ukuran dan desain menjadi lebih efisien.
“Rumah bisa lebih compact, tapi tetap harus nyaman dan layak huni. Kualitas tidak boleh dikorbankan,” tegasnya.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pasar properti 2026 dinilai tetap prospektif, namun bergerak dengan pola yang lebih sehat dan realistis.
Konsumen dituntut lebih cermat dalam mengambil keputusan, sementara pengembang perlu menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 6Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat









