Akurat

Stok Kedelai Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026 Dipastikan Aman

Saeful Anwar | 12 Februari 2026, 11:48 WIB
Stok Kedelai Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026 Dipastikan Aman

AKURAT.CO Pemerintah memastikan kondisi neraca pangan nasional berada dalam keadaan aman dan surplus hingga akhir Maret 2026.

Kepastian ini ditopang oleh proyeksi stok awal tahun yang bersumber dari produksi dalam negeri berbagai komoditas pangan strategis, sehingga diyakini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, menyampaikan, berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional 2026, ketersediaan komoditas strategis utama berada dalam kondisi mencukupi.

Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula konsumsi, serta aneka cabai.

Berdasarkan neraca hingga akhir Maret 2026, ketersediaan sejumlah komoditas bahkan melampaui kebutuhan konsumsi Februari–Maret 2026.

Khusus kedelai, stok nasional tercatat sekitar 629 ribu ton dengan kebutuhan konsumsi sebesar 453,9 ribu ton.

Dengan demikian, neraca kedelai hingga akhir Maret 2026 masih berada pada posisi surplus sekitar 176 ribu ton.

Baca Juga: Lewat Harmoni Imlek Nusantara, PIK Hadirkan Panggung Imlek Terbesar di Jakarta

Dukungan Industri Kedelai

Menanggapi kondisi tersebut, Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) menyatakan kesiapan untuk mendukung pemerintah dalam menjaga ketersediaan kedelai nasional selama Ramadan dan Idulfitri.

“Menjelang, selama, dan pasca bulan puasa Ramadan dan Idulfitri, stok kedelai di dalam negeri selalu tersedia. Rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tempe dan tahu nasional,” ujar Ketua Akindo Hidayatullah Suralaga dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Hidayat mengungkapkan, konsumsi kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai 2,7–2,9 juta ton per tahun. Sekitar 90 persen kebutuhan tersebut dipenuhi melalui impor, sementara sisanya berasal dari produksi dalam negeri.

Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, tidak terjadi lonjakan permintaan kedelai pada periode Ramadan dan Idulfitri. Kebutuhan rata-rata tetap berada di kisaran 220 ribu ton per bulan.

“Bahkan berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), permintaan justru menurun hingga 30 persen. Hal ini karena sebagian perajin tahu dan tempe, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya, mulai pulang kampung sekitar dua minggu sebelum hari raya dan kembali sekitar dua minggu setelahnya,” jelasnya.

Para importir anggota Akindo, lanjut Hidayat, berkomitmen menjaga ketersediaan stok kedelai untuk memenuhi kebutuhan industri tahu-tempe serta industri makanan dan minuman.

Harga di Jawa Timur Dinilai Wajar

Terkait pemberitaan mengenai kenaikan harga kedelai di sejumlah wilayah di Jawa Timur yang dikeluhkan perajin tahu dan tempe, Akindo menyampaikan bahwa harga di tingkat perajin di daerah seperti Surabaya, Jember, Malang, Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, dan Tuban masih berada di kisaran Rp10.000 per kilogram atau di bawahnya.

“Secara umum, harga di tingkat perajin masih dalam rentang yang relatif wajar,” ujar Hidayat.

Baca Juga: IPNM Tumbuh 5,30 Persen di 2025, Kemenperin Genjot Hilirisasi Agro

Menurutnya, dengan memperhitungkan harga jual di tingkat importir serta biaya transportasi dan distribusi dari pelabuhan hingga ke perajin, harga kedelai di berbagai wilayah tersebut masih dalam batas yang dapat dipahami secara ekonomi.

Akindo menegaskan akan terus bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kelancaran distribusi, menjaga ketersediaan stok, serta mengupayakan stabilitas harga demi keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
S