HKTI: Kedelai Impor Masih Dibutuhkan untuk Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Nasional

AKURAT.CO Indonesia hingga kini masih bergantung pada kedelai impor karena produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar 10–18 persen dari total kebutuhan nasional.
Impor kedelai dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, terutama bagi industri tahu, tempe, dan kecap yang menjadi penopang ekonomi rakyat.
Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Abdul Kadir Karding, menegaskan kedelai merupakan komoditas strategis dalam kebijakan pangan nasional.
“Kedelai memang bukan termasuk sembako, tetapi perannya vital bagi masyarakat. Kita pernah melihat dampaknya ketika kedelai langka dan harganya melonjak—produsen tahu-tempe berhenti produksi dan pedagang kecil ikut terpukul,” ujar Karding, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menjaga pasokan kedelai agar stabil dan terjangkau.
Selama produksi dalam negeri belum mencukupi, impor masih diperlukan agar roda industri rakyat tetap berjalan.
“Produksi kedelai nasional hanya sekitar 300–500 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan mencapai 2,8–3 juta ton. Artinya, 82–90 persen masih harus dipenuhi dari impor,” jelas Karding.
Baca Juga: Protein Nabati pada Kedelai Tak Kalah Hebat, Ini Manfaat yang Didapat Anak Penerima MBG
Ia menambahkan, peningkatan produksi kedelai lokal mendesak dilakukan, terlebih dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo.
Upaya menuju swasembada kedelai, kata Karding, memerlukan kebijakan harga yang menguntungkan petani dan kepastian pasar.
“Petani selama ini enggan menanam kedelai karena harga jual tidak menarik dan industri lebih memilih kedelai impor yang dinilai lebih konsisten kualitasnya. Ini harus kita perbaiki bersama,” tuturnya.
HKTI, lanjut Karding, siap bekerja sama dengan pemerintah untuk membenahi rantai pasok hingga memberikan insentif bagi petani.
“Jika produksi lokal bisa ditingkatkan secara bertahap, ketergantungan pada negara pemasok seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan India dapat dikurangi. Swasembada kedelai bukan hal mustahil, tapi membutuhkan kerja sama lintas sektor,” tegasnya.
Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo), Hidayatullah Suralaga, menegaskan bahwa keberadaan importir kedelai bertujuan mendukung pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku bagi masyarakat, khususnya perajin tahu dan tempe.
Ia memaparkan, kebutuhan kedelai nasional saat ini mencapai 220.000–240.000 ton per bulan dan diperkirakan meningkat seiring perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Importir hadir untuk mengisi kesenjangan antara tingginya kebutuhan kedelai nasional dan terbatasnya produksi dalam negeri. Tugas kami memastikan pasokan tidak pernah putus,” kata Hidayatullah.
Baca Juga: Trump: Kedelai Jadi Isu Utama dalam Pertemuan dengan Xi Jinping
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat
- 10Panggil Bahlil ke Istana, Prabowo Terima Laporan Penguatan Tata Kelola Migas dan Peningkatan Layanan Energi









