Perhatian ke Petani Naik, Rakyat Apresiasi Pemerintah

AKURAT.CO Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan di tengah fokus pemerintah menuju kedaulatan pangan nasional.
Sejumlah pakar menilai langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan mulai menunjukkan arah yang lebih konkret, meski masih ditemui sejumlah tantangan di lapangan.
Dalam diskusi publik bertajuk “1 Tahun Pemerintahan Prabowo, Apa Kabar Ketahanan Pangan?” yang digelar Lembaga Survei KedaiKOPI, analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai perhatian pemerintah terhadap sektor ini semakin terlihat.
“Isu ketahanan pangan menjadi menarik karena menjadi fokus Presiden Prabowo dalam membawa Indonesia menuju kedaulatan pangan,” kata Hensa dalam diskusi tersebut, dikutip Minggu (12/10/2025).
Baca Juga: Distribusi Pupuk Kini Lebih Cepat, Petani Rasakan Dampak Reformasi
Meski demikian, Hensa menyoroti dimensi komunikasi yang belum optimal menyentuh lapisan masyarakat tertentu. Komunikasi pangan, kata Hensa jarang menyentuh kelas menengah. Sebab, ada dua hal yang membuat kurang sentuhan ke kelas menengah ini. Pertama karena kelas menengah menguasai media komunikasi dan kedua jarang dilihat oleh pemerintah.
“Pemerintah ini banyak mengurus kelas bawah. Sehingga yang kelas menengah ini nanti, itu kita tunggu kapan. Tapi masalahnya, jika kelas menengah lama-lama tidak ditangani makin lama akan membuat pemerintah pusing,” tambahnya.
Dari sisi persepsi publik, hasil riset menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap sektor pertanian relatif tinggi.
Peneliti Litbang Harian Kompas, Budiawan Sidik Arifianto melihat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pertanian ini relatif sangat tinggi sekitar 71%.
Budiawan melanjut, masyarakat sebagian besar yakin jika menaikkan harga gabah kering panen (GKP) dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Masyarakat yakin sebanyak 77 persen bahwa menaikkan harga GKP dapat meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Budiawan.
Di sisi lain, Pakar pangan Universitas Andalas, M Makky, menilai perhatian pemerintah terhadap petani meningkat signifikan di era Presiden Prabowo. Menurutnya, pendekatan lapangan semacam ini menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari kebijakan, tetapi juga dari pendampingan dan pemberdayaan petani secara langsung.
“Pemerintah perhatiannya besar sekali. Penyuluh pertanian sekarang sudah aktif dan siaga di lahan-lahan. Itu bukti nyata bahwa perhatian terhadap petani semakin meningkat,” ucap Makky.
Meski demikian, ekonom dari Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menilai pencapaian swasembada pangan Indonesia belum merata di semua komoditas.
“Sebetulnya target swasembada itu apa? Sebetulnya yang sudah mencapai swasembada itu beras walaupun masih ada impornya. Tapi yang belum dan masih problem, kedelai dan gula sebetulnya,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








