Akurat Logo

Pencernaan Sehat dan Stimulasi Tepat Dukung Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak

Yosi Winosa | 12 Oktober 2026, 15:34 WIB
Pencernaan Sehat dan Stimulasi Tepat Dukung Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak
Kecerdasan anak paling optimal berkembang di masa golden period, yaitu sejak masa prenatal (dalam kandungan) hingga sekitar usia 5 tahun, dengan puncak plastisitas terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK)

AKURAT.CO Setiap anak memiliki kecerdasan, potensi, dan kebutuhan yang unik. Karena itu, perkembangan kecerdasan anak tidak seharusnya hanya dilihat dari IQ atau kemampuan akademis, melainkan juga dari kemampuan sosial dan emosional, seperti mengenali dan mengelola emosi, berkomunikasi, berempati, beradaptasi, membangun hubungan, belajar, serta memecahkan masalah.

Perkembangan berbagai kemampuan anak tersebut tidak berdiri sendiri, namun dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dan otaknya, serta pengalaman dan lingkungan di sekitarnya. Nutrisi, kesehatan, pengasuhan yang penuh perhatian dan tanggap terhadap kebutuhan anak, stimulasi, serta kesempatan untuk belajar dan mengeksplorasi lingkungan semuanya berperan dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak.

Kecerdasan anak paling optimal berkembang di masa golden period, yaitu sejak masa prenatal (dalam kandungan) hingga sekitar usia 5 tahun, dengan puncak plastisitas terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan window of opportunity atau "jendela belajar". Pada periode ini, otak berkembang sangat pesat sehingga pengalaman, stimulasi, nutrisi, dan interaksi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak.

Baca Juga: Danone Dukung Kehadiran Raja Susu Flagship Store di PIK 2, Hadirkan Pengalaman Belanja Menyenangkan

Namun penting dipahami juga bahwa periode penting perkembangan optimal kecerdasan anak tidak berhenti pada usia 2 tahun; usia 2–5 tahun juga merupakan fase penting ketika kemampuan bahasa, interaksi sosial, regulasi emosi, fungsi eksekutif, dan kemandirian terus berkembang. Karena itu, dukungan pada masa awal kehidupan perlu dilihat sebagai proses berkelanjutan, bukan sebagai kesempatan yang “tertutup” setelah 1.000 hari pertama.

Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis menjelaskan bahwa dalam psikologi, di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua, yaitu critical period dan sensitive period. Critical period merujuk pada fase yang relatif lebih spesifik ketika stimulasi atau input tertentu diperlukan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal.

Sementara itu, sensitive period adalah masa ketika otak dan perilaku sangat responsif terhadap pengalaman tertentu, sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak yang lebih kuat, meski kemampuan tersebut tetap dapat berkembang setelah periode tersebut dengan dukungan dan pembelajaran yang sesuai.

"Dalam mendukung perkembangan kecerdasan emosional dan sosial anak, sensitive period sangat penting diperhatikan karena kemampuan seperti regulasi emosi, empati, komunikasi, dan membangun relasi terus berkembang. Oleh karena itu, pemahaman mengenai periode kritis dan sensitif dapat mem antu orang tua mengenali kapan dukungan, nutrisi, pengasuhan, dan stimulasi perlu diberikan secara konsisten dan responsif," ujae Ratih.

Dalam konteks perkembangan anak, 1.000 HPK merupakan critical period yang sangat penting karena otak berkembang pesat dan sangat responsif terhadap lingkungan. Sementara itu, sensitive period merupakan masa ketika anak lebih siap menerima dan belajar dari pengalaman tertentu.

Meski kemampuan emosional dan sosial tetap dapat berkembang setelah periode ini, pengalaman yang positif dan konsisten pada masa sensitif dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat. Karena itu, orang tua perlu memanfaatkan periode ini untuk membangun fondasi kecerdasan emosional melalui interaksi sehari-hari. Pada masa sensitive period perkembangan sosial dan emosional, stimulasi kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit.

Orang tua dapat mulai dengan merespons emosi anak secara tenang, membantu anak memahami perasaannya, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh bagaimana mengelola emosi, mengajak anak bermain dan belajar bergantian, membaca buku bersama, mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan tokoh, serta memberi kesempatan anak berinteraksi dan menyelesaikan masalah sesuai usianya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.