Pesan Perdamaian dari Konser Andrea Bocelli di Tengah Perang dan Konflik Dunia

AKURAT.CO Pakar geopolitik internasional sekaligus alumnus Universitas St. Petersburg, Rusia, Dr. Ahmad Sujai, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan konser maestro musik dunia Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Menurutnya, momentum perayaan 30 tahun album Romanza ini bukan sekadar pertunjukan musik internasional, melainkan peristiwa kebudayaan yang memiliki makna strategis bagi diplomasi Indonesia dan masa depan dialog antarperadaban dunia.
Dia menilai, Borobudur memiliki kekuatan simbolis yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai salah satu warisan budaya dunia, Borobudur merepresentasikan kebesaran sejarah, kedalaman spiritualitas, serta kemampuan manusia menciptakan karya monumental yang melampaui batas zaman.
Baca Juga: Tak Hanya Genjot Ekonomi, Konser Andrea Bocelli Bisa Bantu Promosikan Candi Borobudur
Kehadiran Andrea Bocelli, dengan karya-karya musik yang dikenal lintas generasi dan bangsa, menghadirkan perjumpaan antara warisan peradaban Timur dan ekspresi seni musik dunia.
"Borobudur bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi jembatan peradaban masa depan. Ketika maestro dunia seperti Andrea Bocelli hadir di Borobudur, kita sedang menyaksikan perjumpaan antara sejarah, seni, dan kemanusiaan. Momentum ini harus dimaknai sebagai pesan bahwa peradaban manusia akan terus berkembang melalui dialog, persahabatan, dan perdamaian, bukan melalui peperangan dan pertentangan," ujar Dr. Ahmad Sujai, Sabtu (31/10/2026).
Dalam perspektif geopolitik internasional, kekuatan sebuah negara pada era modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan ekonomi, politik, maupun militer.
Diplomasi kebudayaan dan pengaruh nilai-nilai peradaban atau soft power semakin memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan, memperluas kerja sama, dan memperkuat posisi suatu bangsa dalam hubungan internasional.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli di Indonesia Tetap Digelar, Ada Pesan Perdamaian dan Donasi 100.000 Sepatu
Indonesia, dengan kekayaan sejarah dan keberagaman budayanya, memiliki modal besar untuk mengambil peran tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan seni internasional di kawasan Borobudur dapat menjadi contoh bagaimana warisan budaya dimanfaatkan secara bertanggung jawab sebagai ruang diplomasi yang inklusif.
Di tengah dunia yang masih diwarnai ketegangan geopolitik, konflik bersenjata, dan krisis kemanusiaan, Indonesia perlu terus menghadirkan ruang-ruang perjumpaan yang mengedepankan dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan persaudaraan antarbangsa.
Dr. Ahmad Sujai juga menekankan bahwa pesan perdamaian dari Borobudur harus memiliki relevansi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan global, termasuk penderitaan masyarakat sipil akibat peperangan di berbagai kawasan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






