Akurat Logo

Jemaah Umrah Indonesia Diminta Hindari Transit di Singapura dan Malaysia, Ada Apa?

Moehamad Dheny Permana | 27 Oktober 2026, 20:38 WIB
Jemaah Umrah Indonesia Diminta Hindari Transit di Singapura dan Malaysia, Ada Apa?
Wamenhaj, Dahnil Anzar Simanjuntak. (Dok. Kemenhaj)

AKURAT.CO Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengimbau jemaah umrah Indonesia untuk menghindari penerbangan transit melalui Singapura dan Malaysia.

Ia mendorong jemaah memilih penerbangan langsung (direct flight) menuju Arab Saudi.

Menurut Dahnil, penerbangan langsung dinilai dapat membantu menjaga keamanan perjalanan sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah melalui optimalisasi penggunaan maskapai nasional.

Ia mengatakan, perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, hingga kini masih dalam kondisi baik untuk penyelenggaraan ibadah umrah.

“Kami sebagai pihak yang mengelola haji dan umrah mengimbau jemaah memilih maskapai direct, bukan penerbangan transit. Lebih aman bisa direct ke Jeddah atau Madinah. Jadi kami sarankan itu,” ujar Dahnil, dikutip Selasa (27/10/2026).

Untuk menindaklanjuti imbauan tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah mengumpulkan asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Langkah ini dilakukan agar pelaku usaha perjalanan turut mempertimbangkan aspek keamanan dan dampak ekonomi dalam menentukan rute penerbangan.

“Kami kumpulkan asosiasi PPIU untuk menjadi perhatian kepada pelaku bisnis travel. Kami minta kepada asosiasi jangan dulu memilih penerbangan transit seperti ke Malaysia atau Singapura,” ujarnya.

Dahnil memperkirakan jumlah jemaah umrah Indonesia yang menggunakan penerbangan transit melalui Malaysia dan Singapura mencapai sekitar 70 ribu orang.

Menurutnya, jumlah tersebut menjadi potensi untuk memperkuat industri penerbangan nasional jika dapat dialihkan ke maskapai Indonesia.

“Jemaah yang transit di Malaysia dan Singapura cukup besar, 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional juga membantu ekonomi nasional kita. Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda,” katanya.

Dahnil menegaskan, penguatan maskapai nasional harus diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan harga yang kompetitif.

Garuda Indonesia dan Lion Air diharapkan mampu memperkuat posisi di pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional.

“Garuda dan Lion harus melakukan perbaikan layanan mereka. Mendorong mereka agar menguasai pasar dalam negeri, harus kompetitif bersaing di luar negeri,” ujar Dahnil.

Untuk mendorong peningkatan layanan tersebut, Kemenhaj telah menghadirkan jajaran pimpinan Garuda Indonesia, Lion Air, dan Angkasa Pura guna membahas pelayanan penerbangan umrah, termasuk perbaikan layanan di terminal haji dan umrah.

“Garuda dan Lion harus meningkatkan layanan dan harga harus kompetitif. Makanya kami hadirkan dirut Garuda, Lion, dan Angkasa Pura,” katanya.

Baca Juga: Aspermigas Ingatkan Risiko Pengurangan Pasokan Gas RI ke Singapura

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.