Komisi VII DPR Soroti Kasus Band Sukatani: Kreativitas Tak Boleh Dibatasi

AKURAT.CO Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan, di era saat ini kreativitas seharusnya tidak lagi dibatasi, termasuk dalam kasus yang menimpa grup musik Sukatani.
Band punk asal Purbalingga ini diduga mengalami tekanan terkait lagu mereka yang viral, Bayar Bayar Bayar, yang mengkritik praktik pungutan liar.
"Menurut saya, ini adalah bentuk pembatasan kreativitas yang seharusnya sudah tidak terjadi lagi. Justru masyarakat perlu bersuara dan menyikapi hal-hal seperti ini dengan kritis," ujar Samuel, Minggu (23/2/2025).
Samuel menekankan bahwa demokrasi harus memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengekspresikan pendapat mereka tanpa rasa takut.
Baca Juga: 15 Situs Resmi Nonton Kuasa Gelap Full Movie Resmi: Bukan LK21, Rebahin, atau IndoXXI
Sebelumnya, dua personel Sukatani, Muhammad Syifa Al Lufti (Alectroguy) dan Novi Citra Indriyati (Twister Angel), menyampaikan permintaan maaf kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta institusi Polri.
Mereka mengklarifikasi bahwa lagu Bayar Bayar Bayar bukan bermaksud menyerang kepolisian secara keseluruhan, melainkan hanya oknum yang melakukan pelanggaran.
“Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan Polri atas lirik dalam lagu kami. Lagu ini sebenarnya ditujukan untuk oknum yang menyalahgunakan wewenang,” ujar Alectroguy dalam video yang diunggah di media sosial.
Sebagai bentuk itikad baik, band ini telah menarik lagu mereka dari Spotify dan mengimbau pengguna media sosial untuk menghapus konten yang menggunakan lagu tersebut.
"Saya meminta kepada semua yang telah mengunggah lagu ini untuk menghapus dan menarik videonya. Jika ada risiko di kemudian hari, itu sudah bukan tanggung jawab kami," tambahnya.
Di tengah polemik ini, beredar kabar bahwa vokalis Sukatani, Twister Angel, yang juga berprofesi sebagai guru, telah dipecat dari tempatnya mengajar.
Kabar ini pun menimbulkan reaksi publik yang mempertanyakan kebebasan berekspresi di Indonesia.
Banyak pihak, termasuk Samuel Wattimena, menilai bahwa langkah-langkah yang diambil terhadap band ini terlalu berlebihan.
"Demokrasi harus tetap dijaga. Tidak boleh ada pembungkaman atas ekspresi kreatif," pungkas Samuel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 8Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









