Akurat Logo

Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000 per USD

Esha Tri Wahyuni | 29 Oktober 2026, 07:50 WIB
Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000 per USD
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto - AKURAT.CO/Esha Tri Wahyuni

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mendapat tekanan di tengah ketidakpastian global dan kekhawatiran dari pasar keuangan domestik.

Meski rupiah mendekati level Rp18.200 per USD, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis mata uang Garuda tidak akan menembus Rp19.000 per USD.

Airlangga menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil sehingga menjadi salah satu alasan pemerintah tetap optimistis terhadap pergerakan rupiah. Namun, tekanan eksternal dan domestik masih membayangi nilai tukar.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Risiko Kenaikan Harga BBM Mengintai

"Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis (rupiah tidak tembus Rp19.000 per USD). Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi," kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah melemah 28 poin atau 0,15% menjadi Rp18.184 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.156 per USD. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar Rp18.183 per USD.

BI menjelaskan, pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut turut menjaga harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko fiskal, serta mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas USD115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea.

Erwin menjelaskan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang atau emerging markets. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi, yang turut memengaruhi daya tarik aset keuangan di negara berkembang.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Harga Minyak, Defisit APBN Diprediksi Melebar

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Selain itu, peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) menjelang akhir bulan turut menambah tekanan terhadap nilai tukar.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.