Akurat Logo

Membaca Inflasi dan Neraca Perdagangan, Ekonomi Indonesia Masih Baik-Baik Saja?

Andi Syafriadi | 1 Oktober 2026, 14:10 WIB
Membaca Inflasi dan Neraca Perdagangan, Ekonomi Indonesia Masih Baik-Baik Saja?
Inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen dan impor Januari-Agustus tumbuh 19,84 persen. Lalu bagaimana kondisi ekonomi Indonesia Memasuki Kurtal IV 2026?

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan. Pada periode yang sama, data perdagangan terbaru (1/10/2026) yang dirilis BPS menunjukkan neraca perdagangan Agustus 2026 surplus USD3,55 miliar.

Dua indikator tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, sementara perdagangan Indonesia masih mencatat surplus. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 surplus USD7,25 miliar.

Namun, kedua indikator tersebut perlu dibaca seksama dengan sejumlah indikator ekonomi lainnya. Inflasi tahunan meningkat dari 3,19% pada Agustus menjadi 3,28% pada September. Sementara itu, pertumbuhan impor sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 19,84%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang sebesar 4,74%.

Baca Juga: BPS: Neraca Dagang RI Surplus USD7,25 Miliar

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih tumbuh dan stabil secara makro, tetapi terdapat sejumlah perkembangan yang perlu diperhatikan, terutama terkait kenaikan harga, konsumsi masyarakat, dan pertumbuhan impor.

Inflasi September 3,28 Persen

BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,30%, sedangkan inflasi sepanjang tahun berjalan mencapai 2,17%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026.

Jika dibandingkan dengan sasaran inflasi Bank Indonesia, angka 3,28% masih berada dalam rentang sasaran 2,5% plus-minus 1%. Untuk 2026 dan 2027, sasaran inflasi BI berada pada kisaran 1,5%-3,5%.

Dengan demikian, inflasi September masih berada dalam sasaran. Namun, jaraknya dengan batas atas sasaran menjadi lebih dekat dibandingkan bulan sebelumnya.

Inflasi September meningkat 0,09 poin persentase dari 3,19% pada Agustus. Sebelumnya, inflasi Juli tercatat 2,88%. Artinya, inflasi tahunan meningkat dalam dua bulan terakhir.

Baca Juga: BPS Catat Inflasi September 2026 Sebesar 3,28 Persen

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan September dengan andil 0,26%.

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, ikan segar, dan kangkung.

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 1,28% terhadap inflasi. Kelompok transportasi memberikan andil 0,58%, terutama dari bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,53%, terutama dari kenaikan harga emas perhiasan.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pada September tidak hanya berasal dari satu kelompok pengeluaran. Harga sejumlah bahan pangan, biaya transportasi, dan emas perhiasan menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi inflasi.

Bagi rumah tangga, kenaikan harga pangan memiliki pengaruh langsung terhadap pengeluaran sehari-hari. Namun, dampaknya dapat berbeda antar kelompok masyarakat karena pola konsumsi dan porsi pengeluaran setiap rumah tangga tidak sama.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.