69 Bulan Surplus, Neraca Dagang RI Masih Tahan Tekanan Impor

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari 2026 kembali surplus sebesar USD0,95 miliar.
Capaian ini memperpanjang tren surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang masih solid di tengah lonjakan impor tahunan.
Baca Juga: BPS Catat Inflasi 4,76 Persen pada Februari 2026
“Pada Januari 2026 neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Dengan capaian ini maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus selama 69 bulan berturut-turut,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2026).
Secara rinci, BPS mencatat surplus nonmigas sebesar USD3,22 miliar, sementara neraca migas masih defisit USD2,27 miliar.
Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas berasal dari lemak dan minyak hewan nabati (HS15) sebesar USD3,10 miliar, bahan bakar mineral (HS27) USD2,16 miliar, serta besi dan baja (HS72) sebesar USD1,51 miliar.
Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD22,16 miliar atau tumbuh 3,39% secara tahunan (year-on-year). Ekspor nonmigas tercatat USD21,26 miliar, naik 4,38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ateng menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terutama didorong oleh lonjakan komoditas lemak dan minyak hewan nabati yang naik 46,05%, nikel dan barang daripadanya meningkat 42,04%, serta mesin dan perlengkapan elektrik yang tumbuh 16,27%.
Di sisi lain, nilai impor Januari 2026 tercatat USD21,20 miliar atau melonjak 18,21% secara tahunan. Impor migas mencapai USD3,17 miliar atau naik 27,52%, sedangkan impor nonmigas sebesar USD18,04 miliar meningkat 16,71%.
Baca Juga: BPS: Surplus Dagang Januari 2026 USD0,95 Miliar, Impor Naik 18 Persen
“Nilai impor migas ini sebesar USD3,17 miliar atau meningkat 27,52 persen secara tahunan. Selain itu impor nonmigas senilai USD18,04 miliar juga mengalami peningkatan secara tahunannya sebesar 16,71 persen,” kata Ateng.
BPS juga mencatat peningkatan impor terjadi pada seluruh kelompok penggunaan. Impor bahan baku atau penolong naik 14,67%, sementara impor barang modal melonjak 35,32% dibandingkan Januari 2025.
Secara mitra dagang, surplus terbesar berasal dari Amerika Serikat sebesar USD1,55 miliar, disusul India USD1,07 miliar dan Filipina USD0,69 miliar. Adapun defisit terdalam tercatat dengan China sebesar USD2,47 miliar, kemudian Australia USD0,96 miliar, dan Prancis USD0,47 miliar.
Tren surplus neraca dagang Indonesia telah berlangsung sejak Mei 2020, periode awal pandemi COVID-19 yang ditandai pelemahan impor dan penguatan harga komoditas global. Sepanjang 2021–2023, surplus ditopang booming harga batu bara, CPO, dan nikel.
Memasuki 2024–2025, surplus mulai menyempit seiring normalisasi harga komoditas dan pemulihan permintaan impor domestik.
Capaian Januari 2026 menunjukkan surplus masih terjaga meski tekanan impor meningkat signifikan, khususnya pada barang modal. Kenaikan impor barang modal sering dikaitkan dengan aktivitas investasi dan ekspansi industri.
Surplus neraca dagang menjadi salah satu penopang stabilitas eksternal Indonesia, termasuk terhadap nilai tukar rupiah dan cadangan devisa. Kinerja ekspor yang tetap tumbuh memberikan ruang bagi pemerintah dalam menjaga defisit transaksi berjalan tetap terkendali.
Di sisi lain, lonjakan impor khususnya barang modal dan bahan baku mengindikasikan peningkatan aktivitas produksi dan investasi. Namun, defisit migas yang masih dalam menjadi tantangan struktural karena ketergantungan pada impor energi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










