BPS: Pola Inflasi Ramadan Berulang, Pangan Jadi Pemicu

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) selalu terjadi pada momen Ramadan dalam lima tahun terakhir.
Pola ini konsisten dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan inflasi Ramadan tercatat:
April 2022: 0,95% mtm
Maret 2023: 0,18% mtm
Maret 2024: 0,52% mtm
Maret 2025: 1,65% mtm (tertinggi dalam 5 tahun)
Februari 2026: 0,68% mtm
“Secara umum, komoditas bergejolak serta komoditas dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi komponen penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadan,” ujar Ateng di Jakarta, Senin.
Baca Juga: BPS: Normalisasi Tarif Listrik Angkat Inflasi ke 4,76 Persen
Pada 2026, inflasi 0,68% mtm didorong emas perhiasan (andil 0,19%), daging ayam ras (0,09%), cabai rawit (0,08%), ikan segar (0,05%), cabai merah (0,04%), dan tomat (0,02%).
Diketahui, bulan Ramadan meningkatkan permintaan pangan dan kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Lonjakan permintaan ini mendorong kenaikan harga komoditas pangan segar dan barang bergejolak (volatile food).
Data lima tahun menunjukkan fluktuasi, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada 2025 sebesar 1,65% mtm, terutama akibat tarif listrik (andil 1,18%). Sementara 2026 lebih rendah dibanding 2022 dan 2025.
Baca Juga: BPS Ramal Produksi Beras RI Februari-April 2026 Cuma 12,23 Juta Ton, Turun 4,02 Persen
Oleh sebab itu, inflasi Ramadan berpengaruh langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah karena porsi belanja makanan relatif besar.
Kenaikan harga pangan juga berdampak pada ekspektasi inflasi dan kebijakan stabilisasi harga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










