BI: Konflik Timur Tengah Buka Peluang Baru bagi Ekspor Indonesia

AKURAT.CO Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, Bank Indonesia (BI) melihat Indonesia masih memiliki ruang untuk memanfaatkan kenaikan harga komoditas dunia sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur perdagangan internasional, terutama di Selat Hormuz. Dampaknya, harga minyak dan sejumlah komoditas global kembali meningkat.
"Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara, serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,76 Persen DIbanding Posisi Mei 2026, Perry: Didukung Respons Stabilisasi BI
Di sisi lain, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya mencapai sekitar 3%, sementara inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5%. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong bank-bank sentral dunia mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Menurut Perry, situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.
"Kami menilai kinerja ekspor nasional masih dapat diperkuat dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global, meski permintaan dunia diperkirakan melambat," paparnya kembali.
Selama ini, sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan tembaga memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan devisa. Kenaikan harga komoditas berpotensi menopang ekspor apabila volume perdagangan tetap terjaga.
Di saat yang sama, BI mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara peluang ekspor dan risiko dari kenaikan biaya impor energi akibat melonjaknya harga minyak dunia.
Baca Juga: Perry Warjiyo Harus Mundur jika Rupiah Terus Melemah
Perry menegaskan pemerintah dan BI akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.
"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 tetap baik, berada dalam kisaran 4,9 persen sampai dengan 5,7 persen," kata Perry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK










